Puisi

Di ruang ini kamu akan membacai wujud diksiku yang lebih intim. Sebab ini adalah kamar khusus puisi-puisiku bermukim. Pojok kecil tatanan kata yang kutulis dengan penuh pikir. Sebab berpuisi adalah melahirkan fantasi tersendiri. Selamat datang, semoga kamu nyaman dan menemukan kesan!

  • Puisi

    Hari Pemakaman

    Tidak ada yang mengerti seberapa tajam duka menusuk isak nafas seseorang.Tidak ada yang mengerti bagaimana sepi itu bekerja menggigit-gigit ingatan di setiap malamnya.Semua orang berjalan dan kembali beraktivitas seperti tiada hal yang pantas terlarut. Tapi untuk kami, ada yang tetap menganga, mendadak lengang, kosong.Tiba-tiba ada yang menjelma lembar soal yang biasa ku kerjakan disekolah.Tapi aku gagap, tak kuasa mengisinya dengan apapun. Dan berakhir kosong. Sengaja kubiarkan tanpa jawaban atau alasan.Kami tidak pernah selesai dengan perasaan ini,Meskipun orang-orang mengirimi karangan dukacita dan petuah abadi para leluhur tentang ketabahan .Mereka tidak benar-benar tau arti berat yang bergelayut di belakang punggungku.Tapi mereka melarangku menangis. Mereka melarangku merangkul sedu sedan yang sejak tadi memperhatikanku…

  • Puisi

    Cahaya Yang Bercahaya?

    Tidak ada nirvana malam ini, Tidak ada grunge. Aku menuangkan diri pada selembar kertas yang sunyi. Menuliskan angin, menuliskan tanah, menuliskan udara. Dimana kiranya kutemukan rumah, yang kedap tanda tanya? Aku ingin bersembunyi, dari basa basi yang membidik nafasku. Menghambur diri pada oase, meneguk lelah. dari anak perempuan yang mencoba merangkul tabah. Bagaimana caranya menjadi cahaya yang bercahaya? Sedang seumpama aku yang merangkak mengendus upaya, Tiba-tiba dilahapnya dibelakang mataku, Oleh waktu yang tidak mau tau, Yang tidak mendengar kata sebentar. Tiba-tiba usang, tiba-tiba gelap. Tiba-tiba aku sendiri dan bukan sesiapa. Lalu ketika aku mendongak, tanda tanya yang darinya aku lari, justru semakin kekar berdiri.

  • Puisi

    Tahun baru

    Januari menata hatinya yang porak poranda. Peluk dan hangat di tunda, hingga pandemi reda.Dan kita yang dicekik harap hanya tertawa.Menipu luka yang semakin menggila.Tapi kelamnya masa ini, masa depan kita masih suci. Selamat tahun baru, bersoraklah bersama terompet dan letusan 2020-ku (yang berlalu).

  • Puisi

    Fana

    Langit rintik melirik, Dua ego tengah saling bertabrak. Tanya tidak lagi penting, Ketika pintu sempurna terbanting. "aku cukupkan kita sampai disini." Barangkali kita hanya sepasang simpul yang saling tarik-menarik, Mencekik satu sama lain dengan perlahan. Memar dan membiru. Yang ini fana sayang, Bahkan kecintaanku yang teramat dalam padamu; Tidak sepatutnya terlalu.