Puisi

Di ruang ini kamu akan membacai wujud diksiku yang lebih intim. Sebab ini adalah kamar khusus puisi-puisiku bermukim. Pojok kecil tatanan kata yang kutulis dengan penuh pikir. Sebab berpuisi adalah melahirkan fantasi tersendiri. Selamat datang, semoga kamu nyaman dan menemukan kesan!

  • Puisi

    Cahaya Yang Bercahaya?

    Tidak ada nirvana malam ini, Tidak ada grunge. Aku menuangkan diri pada selembar kertas yang sunyi. Menuliskan angin, menuliskan tanah, menuliskan udara. Dimana kiranya kutemukan rumah, yang kedap tanda tanya? Aku ingin bersembunyi, dari basa basi yang membidik nafasku. Menghambur diri pada oase, meneguk lelah. dari anak perempuan yang mencoba merangkul tabah. Bagaimana caranya menjadi cahaya yang bercahaya? Sedang seumpama aku yang merangkak mengendus upaya, Tiba-tiba dilahapnya dibelakang mataku, Oleh waktu yang tidak mau tau, Yang tidak mendengar kata sebentar. Tiba-tiba usang, tiba-tiba gelap. Tiba-tiba aku sendiri dan bukan sesiapa. Lalu ketika aku mendongak, tanda tanya yang darinya aku lari, justru semakin kekar berdiri.

  • Puisi

    Tahun baru

    Januari menata hatinya yang porak poranda. Peluk dan hangat di tunda, hingga pandemi reda.Dan kita yang dicekik harap hanya tertawa.Menipu luka yang semakin menggila.Tapi kelamnya masa ini, masa depan kita masih suci. Selamat tahun baru, bersoraklah bersama terompet dan letusan 2020-ku (yang berlalu).

  • Puisi

    Fana

    Langit rintik melirik, Dua ego tengah saling bertabrak. Tanya tidak lagi penting, Ketika pintu sempurna terbanting. "aku cukupkan kita sampai disini." Barangkali kita hanya sepasang simpul yang saling tarik-menarik, Mencekik satu sama lain dengan perlahan. Memar dan membiru. Yang ini fana sayang, Bahkan kecintaanku yang teramat dalam padamu; Tidak sepatutnya terlalu.