• Esai

    Ied Adha Tahun Kedua

    Tidak ada perayaan tahun ini. Tidak ada gegap gempita bersama arang dan kipas bambu. Rutinitas hari raya ala keluarga di idul adha. Pandemic memang tengah merajai desa-desa dan ibukota. Dan kali ini qurban terbesar bukan lagi hewan peliharaan. Melainkan seseorang yang kita cintai. Tuhan memaksa kita menjelma Ibrahim yang dengan tabah merelakan kecintaannya pada ismail. “setiap kita adalah Ibrahim dan apa-apa yang kita cintai adalah ismail.” Tuhan tidak meminta Ibrahim membunuh ismail. Ia hanya meminta Ibrahim membunuh rasa kepemilikannya. Menyadarkan diri kembali bahwa kita datang tanpa membawa apapun dan akan kembali pula dengan keadaan serupa. Tapi tentu saja kita ini manusia, yang meskipun paham bahwa ditinggal ataupun meninggalkan adalah keniscayaan.…