Cerpen

Ini adalah ruang utama, ruang pertama aku menerima mereka yang berkunjung. Di sini aku agak banyak bicara, sebagaimana fungsinya ruang tamu. Aku ingin kita banyak bercengkrama. Tapi maafkan, aku banyak berdongeng dan mengambil majas untuk merespresentasikan tokohku. Sebab aku adalah pengagum semesta. Di tiap langkah kakiku selalu ku temukan perumpamaan untuk bisa mengambil pelajaran. Aku ingin di laman ini kalian merasa tidak sendirian, ada seseorang dari dimensi yang berbeda memelukmu dengan tatanan katanya. Aku hanya sedang berusaha mewujudkan mimpiku. Kalau aku tidak bisa menjadi sosok yang menyenangkan, setidaknya izinkan aku menjadi sosok yang menenangkan. Selamat datang, selamat pulang !

  • Source : Pinterest/ayeshajunaid
    Cerpen

    Hari ke-100

    Tiba rupanya kaki ini pada nafas pertama di hari ke-100. Segalanya sudah menjadi lebih baik-baik saja. Atau barangkali kami yang hanya pura-pura terbiasa. Muka rumah kian kosong, beberapa isi lemari mulai kami benahi. Kami benar-benar bersiap melepas kepergian. Oh, barangkali sudah bukan waktunya untuk bersiap tapi sungguh harus merelakan. Aku bertanya pada seorang kawan, apakah bentuk kerelaan itu nyata pada bumi yang kita rasai milik kita ini? Tapi ia hanya diam menatapku. Ia merangkul pundakku “kau harus sampai di titik ini dulu, baru aku bisa menjawab tanyamu.” Katanya kemudian. Ia kembali pada tempatnya yang nun di depan sana. Hari ini, rasanya aku baru terbangun. Tapi kemudian tiba-tiba hari mulai senja…

  • sources: pinterest
    Cerpen

    Waktu dan Anak Panah

    Kamu pernah suatu ketika beku, mengutuk keputusan yang kamu buat? Menyesal dan berkali-kali menyumpah serapah diri sendiri. Kamu pernah berada di suatu persimpangan, dan begitu ragunya untuk menentukan tikungan mana yang kamu pilih, tikungan yang kau harapkan mengantarmu sampai di akhir? Atau kamu tau sesuatu yang kamu ingini, tapi terlalu bimbang dan waktu membuatmu berakhir tidak memilih apapun. Sebab berlalu adalah keniscayaan katanya. Waktu hanya berjalan tanpa bertanya, ia terus berjalan tak peduli kita yang tersenyum oleh memori, atau tertusuk panah kita sendiri. Kemudian disini tempatmu berada, lorong yang tidak ada dimana-mana dengan panah di dada kirimu. Menyesali keputusan yang kemarin, tapi tidak juga mampu menentukan pilihan yang ada dihadapan.…

  • Society6 - Pinterest
    Cerpen

    Tubuh Yang Kau Pinjam

    Hari ini menarik ya? Banyak emosi melintasi diri.  Mengucurkan tangis jadi seperti satu-satunya peringan beban. Manusiawi untuk merasa tidak baik-baik saja—katanya. Manusia biasa sayang, walau dipercayakan mengemban banyak luka orang sekitar, kuat yang mutlak memang tidak pernah ada. Selalu terdapat airmata yang diam-diam menyelinap, bersembunyi di pelupuk mata, di waktu-waktu sepi, di waktu yang juga membuatmu utuh merasa sendiri. Barangkali, diatas motor tua. Di antara kemacetan, diantara riuh klakson dan umpatan khas jalanan. Udara di kedua telingamu tetap menyampaikan kekosongan. Dibalik helm anti silau, kau siram pipi dengan kerapuhan. Kau teriakan lagu paling sengit, yang menggigit inti jantungmu. Tidak ada yang benar-benar tangguh ternyata. Kokoh langkah yang dilihat orang, tidak…

  • Magda Maruszka - Pinterest
    Cerpen

    Ransel Merah

    Aku membawa ransel di punggungku, kadang ia terasa berat tapi karna terbiasa kubawa, kadang juga begitu ringan, seperti tidak membawa apa-apa. Dan hal konyol lainnya kadang aku lupa aku punya ransel yang menempel di belakang punggungku kemanapun aku pergi. Ranselku tidak besar, berwarna merah maroon dengan aksen cinnamon. Tapi cukup untukku menyimpan sebagian cita-cita dan keberanian untuk menjadi bekal di perjalanan. Kenapa sebagian? Tentu saja sebagian lainnya aku tinggalkan dirumah. Agar ketika kesialan hidup sedang jahil dan bahkan mencurinya dariku, aku bisa pulang dan mengumpulkan bekalku lagi untuk kembali memulai perjalanan lainnya. Awalnya aku seperti tidak tau mau kemana, aku hanya merasa perlu membawanya. Mengingat aku hanya punya 2 pilihan.…

  • credit: pinterest
    Cerpen

    Di Hadapan Dua Pintu

    Serupa ibu, serupa tanah, serupa rumah. Semesta adalah pengajar terbaik yang menemui muridnya di tiap detik renung. Di lorong-lorong tanya yang sendiri dan penuh ragu. Di malam yang bising oleh desakan rintik hujan yang berjubal di kanal matamu. Aku percaya setiap yang diciptakan di dunia berpasangan. Dan sepasang adalah dua yang tergenapkan. Bukan tiga, bukan yang lain. Dalam hidup seringkali kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Sebab hidup adalah rentetan pilihan yang tidak pernah usai, hingga waktu mengubur seluruh usia. Deret pintu satu dan pintu lainnya yang terus menerus harus dibuka. Agar terus berlanjut, terus berjalan, dan terus.. Namun dalam ruangan yang kita pijak, pintu itu selalu terdiri dari dua variable…

  • Cerpen

    2020 si Tahun Pembelajaran

    Kota seperti berlagak santai. Manusia mulai mengedepankan bosan. Menginjak 9 di 2020. Terasa terlalu cepat untuk sebuah diam yang dipaksa oleh keadaan. Bahwasanya benar, waktu hanya berjalan dan terus berjalan tanpa pernah bertanya. Ia seperti tidak peduli kami yang sedang gempar dengan pandemi. Kami yang dibuat gentar oleh duka dan kepergian berkali-kali ditahun ini. Ia hanya menatap, tatapan kosong. Tanpa iba, tanpa amarah, hanya sorot yang mengajarkan kita berpasrah. Tahun cantik yang tidak akan alpa dari sejarah. Betapa kita semua begitu muak untuk mengenangkan dan ingin segera pergi menanggalkannya dengan damai. 2021 tinggal menuju hitungan jam, tidak ada euphoria yang berlebihan seperti halnya perayaan tahun baru umumnya. Mengenangkan 2020 pertama…

  • Cerpen

    Tanya untuk Ibunda

    Bunda, dan apakah hidup itu? Dulu ku kira menunggumu pulang dengan jajanan pasar adalah kesenangan yang tak akan pudar. Dulu dengan sisa dagangan yang kau bawa pulang sisa kue dari toko tempatmu numpang berjualan adalah harta karun yang aku pikir, barangkali ini adalah balasan tuhan karna aku membantumu mencuci piring kemarin. Dulu kau senang bercerita perihal makhluk tak kasat mata yang maha memiliki kita, ia yang tidak pernah tidur itu selalu hikmat menyaksikan tiap gerak gerik kita disetiap harinya. Bundaa, bahkan dimasa kanak ku tuhan terdefinisikan begitu besar dan terang. Bunda, anak kecil yang senang meraba wajahmu saat terlelap itu kini bertumbuh dan tengah menyelipkan harapan besar pada hidup yang…

  • Cerpen

    Perempuan Bermata Senja

    Penghujung tahun 2020, cuaca masih tidak menentu. Siang yang begitu teriknya, bisa tiba-tiba hujan deras. Tanpa isyarat, tanpa permisi. Seperti halnya hari yang kita lalui. Begitu mudahnya terbolak balik oleh keadaan yang kadang tak baik. Di kesempatan hari ini, izinkan aku bercerita. Tentang sahabatku, perempuan bermata senja. Yang teduh dalam segala diamnya, kini. Ya, kini. Sebab oranye yang menyala di matanya tidak terlahir begitu saja.

  • Cerpen

    Ia Yang Berpulang

    Ku biarkan cahaya matahari memilikimu.. Di hari yang 17 agustus. Pingir jalan terjajar warna warni bendera, merah dan putih. Televisi sedang serentak menampilkan upacara di istana. Pagi masih pukul 10. Di sudut lain, petak rumah sakit tempatmu terbaring. Kau bergegas meninggalkan kefanaan. Membiarkan cahaya itu membawa letih yang belakangan menggantung di kedua belah pundakmu. Kau biarkan ia melepaskan kesakitan dan sisa nafas. Nafas yang juga pernah kita bagi bersama, di puncak ketinggian. Di antara senja dan semangka. Di antara dingin dan hangat yang berbicara.

  • Cerpen

    Bumi Yang Tersungkur

    Barangkali hidup adalah naskah panjang, tempat kata-kata dan tanda baca bercengkarama. Kita hanya perlu mengikuti penulis yang maha agung itu dengan perintah baca serta jeda di tiap kalimat. Beberapa waktu yang lalu langkahku terseok, bumiku jatuh sakit. Diagnosa yang awam terdengar oleh kami yang hanya menggantungkan pulih pada sebutir logam ini tersentak.