• Cerpen

    Tanya untuk Ibunda

    Bunda, dan apakah hidup itu? Dulu ku kira menunggumu pulang dengan jajanan pasar adalah kesenangan yang tak akan pudar. Dulu dengan sisa dagangan yang kau bawa pulang sisa kue dari toko tempatmu numpang berjualan adalah harta karun yang aku pikir, barangkali ini adalah balasan tuhan karna aku membantumu mencuci piring kemarin. Dulu kau senang bercerita perihal makhluk tak kasat mata yang maha memiliki kita, ia yang tidak pernah tidur itu selalu hikmat menyaksikan tiap gerak gerik kita disetiap harinya. Bundaa, bahkan dimasa kanak ku tuhan terdefinisikan begitu besar dan terang. Bunda, anak kecil yang senang meraba wajahmu saat terlelap itu kini bertumbuh dan tengah menyelipkan harapan besar pada hidup yang…

  • Review

    Soe Hok Gie: Catatan seorang demonstran!

    Buku yang entah kenapa banyak terdistrak saat membacanya. Bukan apa-apa , kalimat dalam buku ini cukup dapat aku nikmati. Tidak terlalu banyak frasa yang membingungkan. Meskipun beberapa istilah politik perlu bantuan google untuk menterjemahkan. Aku memang bukan tipe orang yang menyukai politik pada dasarnya, tapi membaca buku kiri bukan yang pertama kali. Sesuai judulnya, buku ini berisi catatan harian panjang sang demonstran, soe hok gie. Tokoh yang tidak asing untuk mahasiswa pecinta alam universitas Indonesia, ia tidak lain adalah pendiri Mapala itu sendiri. Membaca sebuah catatan harian adalah sebuah jalan pintas memahami isi kepala seseorang. Jujur tanpa tipu daya, dari sudut pandang keakuan yang utuh. Kita di ajak berlayar dalam…

  • Cerpen

    Perempuan Bermata Senja

    Penghujung tahun 2020, cuaca masih tidak menentu. Siang yang begitu teriknya, bisa tiba-tiba hujan deras. Tanpa isyarat, tanpa permisi. Seperti halnya hari yang kita lalui. Begitu mudahnya terbolak balik oleh keadaan yang kadang tak baik. Di kesempatan hari ini, izinkan aku bercerita. Tentang sahabatku, perempuan bermata senja. Yang teduh dalam segala diamnya, kini. Ya, kini. Sebab oranye yang menyala di matanya tidak terlahir begitu saja.

  • Cerpen

    Ia Yang Berpulang

    Ku biarkan cahaya matahari memilikimu.. Di hari yang 17 agustus. Pingir jalan terjajar warna warni bendera, merah dan putih. Televisi sedang serentak menampilkan upacara di istana. Pagi masih pukul 10. Di sudut lain, petak rumah sakit tempatmu terbaring. Kau bergegas meninggalkan kefanaan. Membiarkan cahaya itu membawa letih yang belakangan menggantung di kedua belah pundakmu. Kau biarkan ia melepaskan kesakitan dan sisa nafas. Nafas yang juga pernah kita bagi bersama, di puncak ketinggian. Di antara senja dan semangka. Di antara dingin dan hangat yang berbicara.

  • Puisi

    Fana

    Langit rintik melirik, Dua ego tengah saling bertabrak. Tanya tidak lagi penting, Ketika pintu sempurna terbanting. "aku cukupkan kita sampai disini." Barangkali kita hanya sepasang simpul yang saling tarik-menarik, Mencekik satu sama lain dengan perlahan. Memar dan membiru. Yang ini fana sayang, Bahkan kecintaanku yang teramat dalam padamu; Tidak sepatutnya terlalu.

  • Cerpen

    Bumi Yang Tersungkur

    Barangkali hidup adalah naskah panjang, tempat kata-kata dan tanda baca bercengkarama. Kita hanya perlu mengikuti penulis yang maha agung itu dengan perintah baca serta jeda di tiap kalimat. Beberapa waktu yang lalu langkahku terseok, bumiku jatuh sakit. Diagnosa yang awam terdengar oleh kami yang hanya menggantungkan pulih pada sebutir logam ini tersentak.

  • Cerpen

    Mengantar Sapardi

    Hari minggu di pertengahan juli yang ragu-ragu. Pagiku masih tidak berbeda dari kebanyakan minggu lain. Ari reda terputar, menyanyikan sajak puisi dari nama legendaris yang terpampang rapi pada sampul buku-buku di lemariku. Aku nikmati tiap nada, meletakan sosok ia yang hidup dalam syair yang ku dengarkan. Sisa kerinduan sabtu malam belum usai rupanya. Sesap pertama teh hijauku begitu hangat. Merembes ingatanku yang dikoyak oleh tarian puisi di telinga.