Cerpen

Sulung Tanpa Punggung

Aku memiliki hati yang lapang. Setidaknya itu yang ku percaya selama ini. Di dalam sini berisikan beraneka ragam hal-hal yang aku cintai. Dan kepingan terbesar yang menguasai hampir seluruh hatiku dimiliki oleh ibuku. Dia adalah alasanku tetap bertahan di tengah cabikan semesta yang bertubi-tubi mengoyak dada. Dia adalah manusia pertama yang berhasil menautkan tali pengharapanku untuk tetap berdiri menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Aku menghabiskan hampir dua puluh tujuh tahun bersama perempuan tabah itu, bersama kesialan yang meliputi hatinya yang murni.

Janjiku pada diri  terpatri, meskipun dirundung hidup yang sial berkepanjangan aku ingin menjadi alasan untuknya bersyukur dan bergumam setidaknya harga yang harus ia terima dalam hidup setara dengan hadirnya aku. Entah apakah pernah ada kata setara itu, entah apakah cukup upayaku untuk membuatnya menelan kepedihan dengan lapang dada. Aku tidak tau, tidak pernah sekalipun tau. Aku bersyukur pernah memiliki perempuan sehebat itu. Ia membuatku bercita-cita menjadi seperti dirinya. Tapi bolehkah aku menjadi perempuan hebat tanpa kesialan serupa? Aku tidak ingin menjumpai putra putriku merasa lara melihatku yang diam-diam menyembunyikan lukanya yang merah, basah dan bernanah. Kumohon jangan!

Hatiku yang penuh dengan wajah ibundaku ini kehilangan kepingan terbesarnya. Ia ikut terkubur bersamaan raga yang selalu senang ku peluk ketika tidur. Aku kehilangan kepingan itu, hatiku terpincang-pincang. Mengingat-ingat kembali caranya mencintai. Dengan secuil potongan hati yang tersisa, mudah sekali untukku meraung-raung menistakan kehidupan. Membenci omong kosong perihal kebahagiaan. Bagiku itu hal yang tidak nyata lagi. Kini aku harus menjalani semuanya dengan kepura-puraan panjang. Aku mudah lelah, sebab hal itu menghabiskan terlalu banyak energi. Sedangkan makanan yang aku konsumsi kian berkurang. Aku tidak memiliki selera nafsu sebanyak dahulu. Aku kehilangan alasanku untuk bertahan dan hidup. Langkahku lebih sering gontai. Tapi aku tampil di hadapan banyak orang dengan topeng baik-baik saja dan berselendangkan ‘wanita kuat’. Ah, persetan dengan puja puji itu! Aku ingin menukar ini dengan kehidupan lamaku.

Tempramenku kian memburuk, aku mudah meracau. Merusak segala yang ada dihadapan. Aku ingin merusak segalanya, seperti halnya hidup merusak isi jantungku tanpa aba-aba. Kemudian kusadari di pojok ruang itu tersungkur seorang bayi yang pernah ku gendong kesana kemari, yang kini badannya lebih besar daripadaku namun pikirannya terjebak di utopia masa kanak-kanak.
Ya, adikku. Aku hampir gila, tapi masih ada anak manusia yang harus aku emban amanahnya.

Lagi-lagi aku alpa, sempurna terkulai lemas. Sudah berapa lama ia terluka di pojok sana? Sudah berapa waktu ku abaikan ia dan hanya terfokus pada nestapa sialan ini? Apa yang harus aku lakukan untuknya. Apakah seorang pesakitan bisa merawat orang yang terluka? Apakah aku pantas memeluk tubuh anak yang ketakutan itu? Adakah aku justru menjadi ketakutannya?

Aku berfikir untuk menyerah, menyerahkannya entah pada siapa. Aku merasa tidak mampu merawat anak bermata besar itu seorang diri. Apakah ini artinya aku lari dari tanggung jawab? Tapi, apa yang harus aku katakan pada ibuku kelak ketika tiba-tiba ia di depan pintu rumah dan bertanya. “Bagaimana kabar kami sepeninggalnya? apakah mesin cuci dirumah masih sering mati? Apakah kami menjaga shalat kami?” Siapatau dia akan pulang kan? Barangkali saja pergi yang ini hanya sementara. Ya, barangkali saja.

Malam tadi, ditengah tangisan yang kubawa tidur ia pulang. Ia tidak mengatakan apa-apa tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah-olah memintaku tersadar dan bangun. Seolah-olah menyuruhku bersabar. Entah sabar yang seperti apa yang ia maksud. Maksudku apakah pertahananku selama ini tidak terhitung sebagai sabar juga? Atau ini justru permulaan yang belum selesai? Dia menatap kami dengan lekat. Kali ini matanya seperti berbicara bahwa bayi bermata besar ini adalah peninggalan hidup satu-satunya dari ibuku. Darah ibuku mengalir ditubuhnya.
Sebuah titipan dan aku harus menjaga yang tersisa.

“Dik, apa aku boleh menyentuhmu?”

By: pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *