Credit : Pinterest
Cerpen

Bumi dan Daun

Bagaimana cara merangkum 2021 ?

Mengurainya menjadi kata-kata juga berarti merobek luka yang sudah sangat hati-hati ku obati. Meski arti mengobati itu, tiada lebih dari berlari dan upaya melupa berkali-kali. Aku setuju tiap kita punya kedalaman rasa yang berbeda. Dan lagi-lagi aku membicarakan tentang duka. Sungguhpun berkali-kali disuarakan ia di toak masjid, di lorong gang sempit atau bilik-bilik kamar rumah sakit, tak pernah kurasai ia benar-benar begitu mengigit sebelum hari itu.

Habis sudah pengharapanku pada hidup bajingan yang selalu ku semogakan. Hari itu diremukan sekujur tubuhku. Separuh nafas yang kuperjuangkan di ambilnya kembali. Di tahun ini, tahun yang sama dengan perginya sang penopang. Hanya mereka yang mengalami yang paham arti penderitaan itu sendiri. Aku benci menjelaskan keadaan diri yang porak poranda, pun aku benci dihujani tatapan iba bertubi-tubi. Namun di saat bersamaan aku mengutuk keacuhan. Aku kerdil, di tengah perasaan yang tidak terjabarkan.

Ibundaku yang hangat, yang barangkali malam ini sedang mengintipku di sudut kamar menuliskan kedukaan, kekosongan yang teramat lebar sejak kepulanganmu ke keabadian. Adakah disampingmu berdiri bapak? Merangkulmu dengan tangan kanannya, menepuk-nepuk berujar meyakinkan, bahwa kami akan baik-baik saja. Adakah ia disana? Pastikan ia menemanimu selalu. Aku benci melihatmu sendiri dan menanggung segala kesakitan itu dalam diam.

Dibawah pohon yang rindang, tanah yang lapang, udara yang selalu kau rindu, kota kelahiran, terbenamkan raga dan alkisah seorang perempuan. Sulung, tulang punggung, menghabiskan sepanjang sisa usianya untuk berjuang. Demi permata berharga yang digenggamnya sampai akhir.

Hari itu bu, kuantarkan kau menuju keniscayaan. Membelah ibukota dengan sirine dikepala. Memecah kebekuan jalan tol yang biasa kita nikmati setiap tahunnya dalam perjalanan mudik. Aku sepenuhnya terjaga, dan kau hanya berbaring, pulas sekali di dalam ranjang terakhir yang membawamu pulang ke keabadian. Kau ingin cepat sampai bukan? 7 jam perjalanan itu terlalu panjang rasanya untukku, tapi juga terlalu cepat.

Pukul enam pagi sirine terhenti di muka rumah kita, aku turun. Cuaca mendung, tapi yang membasahiku bukan hujan, melainkan derasnya isak dan pelukan. Tubuhku basah kuyup. Celaka, aku tidak bisa menangis dihadapanmu. Dimana bilik kedap suara? Agar mampu kusembunyikan tangisku yang tidak sabar ingin keluar. Tapi ragamu tidak bisa kulihat lagi? Dimana aku harus bersembunyi kini? Bagaimana kalau kau menemuiku diam-diam tanpa ku tau? Aku benci terlihat lemah dihadapanmu. Kau harus yakin akulah putri tangguhmu itu.

Tapi hari itu aneh, kepalaku terlalu panas. Di dadaku ada sesuatu yang ingin meloncat keluar, melonglongkan jeritan. Seorang anak yang entah sejak kapan terperangkap di tubuh dewasa ini berhasil keluar, berteriak, meraungkan kehilangan. Seorang ibunda yang dalam keterbatasan selalu memiliki cara membahasakan cinta pada putrinya. Tangan hangat yang tergenggam senantiasa, tiba-tiba dingin. Tiba-tiba hilang, dan tiba-tiba segalanya gelap. Lenyap. Aku tidak sadarkan diri. Dan entah apa yang menggerakkan tubuh serta tawaku setelahnya.

Memasuki tahun 2022, aku mengemas barang-barang lama yang mendongengkan kenangan tentang kau. Begitu berarak, berjubal dan berebut terputar. Aku kewalahan, aku benar-benar baru terbangun dari utopia yang ku ninabobokan. Tiada kau, tiada kalian, tiada apapun.

Tapi hidup selalu menawarkan segala yang tidak kita duga katanya. Aku belum sepenuhnya sadar. Tapi sebagian diriku hilang. Tiada orang yang ingin mimpinya lebih indah dari kenyataan. Tapi meskipun begitu, kusambut kau di ruang itu bu.

Kau tau kucinta kau lebih dari bagaimana puisiku bekerja, bukan ?

Meski kini kau lebih lamat dan hening ku suarakan, meski lambat laun aku semakin menua dan alpa. Tuhan tidak pernah benar-benar mengambilmu dariku. Di tempat yang seperti jauh itu bu, bolehkah kuminta kau menungguku dengan hati yang gembira? Jangan terluka, jangan menangis diam-diam lagi. Kau sudah mengubur kesakitan itu, kau sudah menuai cinta yang begitu menghambur di bumi yang kau tinggali. Kalau hidup memberi pilihan yang kedua, aku ingin jadi putrimu lagi. Berjanjilah kita akan saling mencari dan menemukan. Berjanjilah kita akan tertawa lagi disini, membicarakan perjalanan panjang kita.

” Bumi yang menopang hidup, merasa dikuatkan oleh daun yang dilahirkannya. “

Berkatmu, aku ingin menjelma bumi dan daun itu;

Berikrar hidup, untuk terus membuat tumbuh.

5 Komentar

  • dina widya

    semoga kelak bakat tulis mu berbuah menjadi kesuksesan besar di masa depan ya des.

    terbaca.. tersebar.. lebih luas lagi ke luar sana.

    kesedihan kerapuhan yg berbalut keindahan kata.
    so beutiful write.

    kamu ga harus selalu kuat.
    kamu boleh rapuh sayang.

    peluk.

  • Nik Sukacita

    Maka bertumbuhlah , walau memang hidup kadang sebajingan itu tapi sejatinya dia membutuhkanmu.

    Tuk membuatnya indah karena dia melihat kau sekuat itu, melebihi apa kau bayangkan.

    Kelak kau akan tersenyum bahwa apa yg saat ini terpeluk hanya pelunasan sebuah keseimbangan.

    Bergerak saja terus akarku..

  • Zein zainal

    Baru kali ini ingin membaca, entah apa yg aku cari, tapi aku berasa masuk dalam tulisan ini dan merasakan juga apa yg ada dalam tulisan ini. Makasih sudah membuka mataku tuk jadi lebih baik dan lebih baik lagi buat orang” tersayang yg ada di samping aku 🙏🙏🙏🙏 doa nya semoga kelak kamu jadi orang yg sukses di jalanmu Des

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *