Source : Pinterest/ayeshajunaid
Cerpen

Hari ke-100

Tiba rupanya kaki ini pada nafas pertama di hari ke-100. Segalanya sudah menjadi lebih baik-baik saja. Atau barangkali kami yang hanya pura-pura terbiasa. Muka rumah kian kosong, beberapa isi lemari mulai kami benahi. Kami benar-benar bersiap melepas kepergian. Oh, barangkali sudah bukan waktunya untuk bersiap tapi sungguh harus merelakan. Aku bertanya pada seorang kawan, apakah bentuk kerelaan itu nyata pada bumi yang kita rasai milik kita ini? Tapi ia hanya diam menatapku. Ia merangkul pundakku “kau harus sampai di titik ini dulu, baru aku bisa menjawab tanyamu.” Katanya kemudian. Ia kembali pada tempatnya yang nun di depan sana.

Hari ini, rasanya aku baru terbangun. Tapi kemudian tiba-tiba hari mulai senja lagi. Terus begitu, dengan rutinitas yang sama. Bersiap membereskan sisa kenang dan kerinduan, kemudian membenahi hati yang semalam suntuk menuliskan pengandaian, dan tentu saja kembali menjalani siang dengan perasaan yang harus diabaikan. Manusia tentu boleh punya hati dan merasakan emosi, tapi untuk diriku seseorang bilang “Jangan terlalu lama tinggal disana, nanti kau tenggelam”.

 Aku ingin pulang sedikit bergegas, tapi tumpukan kertas di meja kerja menyuruhku untuk menahannya sedikit lebih lama. Kertas-kertas itu mengajakku untuk terlupa sebentar saja, mereka memintaku “untuk yang kali ini tatap aku saja, jangan dukamu”. Mereka sungguh sangat lucu, dan meskipun aku tengah terpaku bermain-main dengannya bagaimana kiranya kepalaku bisa kupenjarakan untuk tetap ada disini? Sial, percuma aku menjelaskan ini. Mereka toh takkan paham.

Hanya orang yang mengalami penderitaan, yang paham bagaimana penderitaan itu bekerja. Lebih dari tikaman yang sering kita bacai di surat kabar kriminal pagi hari. Bahkan pula untukku, segalanya menjadi benar-benar berbeda. Mereka yang menepuk pundakku hanya berpendar abu-abu. Sedang aku yang seorang diri harus tetap melangkah kehilangan rasa di tiap persendian nafas.

Hari sudah pukul delapan, kali ini aku benar-benar bergegas,.Beberapa hal yang sudah habis harus kubeli. Aku harus membeli kebutuhan pokok. Mereka melanjutkan hidup dengan itu. Maka ku isi diriku dengan sedikit penghiburan. Aku senang seseorang diluar sana menemukan musik. Mereka baik sekali menemaniku di hari-hari paling muak sekaligus sepi. Rupanya aku tidak sendiri, mereka menghiburku senantiasa dengan alunannya. Ia bahkan tak jarang merintihkan luka yang sama. Sungguhlah aku sangat bersyukur atas yang ini. Tak lama kemudian aku sampai dirumah. Kusediakan diriku untuk mereka. Ya, akulah kebutuhan yang pokok itu.

Ibuku duduk di beranda ketika motorku menepi. Demi wajah itu, bahkan aku rela menukar satu hari lelah ini untuk melihatnya tersenyum sekali lagi. Tangannya hangat, bergetar menyambut salamku. Tuhan tidak pernah main-main ketika berkarya, gumamku. Adikku telah pulas, aku hanya mampu menyampaikan terimakasihku dengan tatapan. Anak sekecil itu, “Terimakasih sudah menjaganya hari ini dik. Terimakasih sudi menjaga ibu, bumiku, bumi kita”.

Di kamar ukuran 3×5 meter aku menghempas tubuh. Tiba-tiba kusaksikan foto bapak menatapku, dan seperti berbicara “Terimakasih sudah menjaga mereka nduk”. Tidak banyak yang bisa kulakukan, aku hanya mencoba tetap hidup, dan memastikan segala yang bisa ku lakukan, aku lakukan. Butuh 100 hari untukku mampu menjadikan hari ini sebuah jejak digital. Aku ingin mengenangkan banyak hal atasmu. Tapi tiap kali aku mulai memilah dan mendikte ulang kisah terdahulu, keningku memanas.

Terlalu banyak ruang yang harus kujelajahi. Langkah pertama yang membawaku berlari hingga di titik ini. Ejaan pertama yang mengajariku berkata dan bercerita. Bahkan tangis pertama yang kau bela saat masa kanak-kanakku. Terlalu penuh, memutari ruang isi kepalaku. Berputar satu persatu tanpa bisa kuminta untuk berhenti. Sesak sekali menyadari rekaman itu pasti tiada lagi.

Tidak banyak potret di masa itu,  tidak banyak bingkai yang terpampang wajah kami secara bersama-sama. Tiada yang mampu membantu kami menceritakan kenangan. Kami bergotong-royong menjaga memori fana di kepala. Bila tiba hari dimana lenyap perlahan daya ingat ini, kemana lagi aku harus mencarimu? Singgasana nomor berapa bisa kucari kau? Meskipun entah kapan waktu itu tiba, aku ingin berkunjung ke tempat yang seperti jauh dan niscaya itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *