Esai

Ied Adha Tahun Kedua

Tidak ada perayaan tahun ini. Tidak ada gegap gempita bersama arang dan kipas bambu. Rutinitas hari raya ala keluarga di idul adha. Pandemic memang tengah merajai desa-desa dan ibukota. Dan kali ini qurban terbesar bukan lagi hewan peliharaan. Melainkan seseorang yang kita cintai.

Tuhan memaksa kita menjelma Ibrahim yang dengan tabah merelakan kecintaannya pada ismail. “setiap kita adalah Ibrahim dan apa-apa yang kita cintai adalah ismail.” Tuhan tidak meminta Ibrahim membunuh ismail. Ia hanya meminta Ibrahim membunuh rasa kepemilikannya. Menyadarkan diri kembali bahwa kita datang tanpa membawa apapun dan akan kembali pula dengan keadaan serupa. Tapi tentu saja kita ini manusia, yang meskipun paham bahwa ditinggal ataupun meninggalkan adalah keniscayaan. Kita tidak pernah benar-benar siap menerima kehilangan.

Tahun kedua merayakan idul adha bersama corona. Tahun kedua membalik pemahaman kita akan Bahasa cinta yang bukan lagi menatap dan memeluk, tapi menjaga dan menyaksikan dari jauh. Barangkali kita bisa mengartikan ini sebagai cara tuhan mendewasakan rindu. Berat sekali rupanya cara menahan yang ini.

Juli ini hari-hariku tengah ramai dengan bising sirine ambulans. Social media dan toak masjid seakan saling bersahutan menyuarakan berita duka. Kawan-kawanku lainnya sedang berseliweran kesana kemari mencari oksigen dan kapasitas rumah sakit yang kosong. Berita satu dan berita lainnya yang mampir hanya semakin menyesakkan dada. Orang-orang berseragam APD terkapar kelelahan. Situasi seperti kian genting. Aku menyaksikan ada ramai kerumunan orang di swalayan, rupanya berebut susu beruang. Tapi di tempat berbeda seorang pedagang ketoprak terduduk lesu. Hampir sore baru laku satu. Mereka bilang pemerintah menetapkan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Kegiatan terbatas, apakah artinya jatah perut juga dibatasi? Tanyanya dalam hati.

Jariku berjalan-jalan lagi dan ditunjukannya tatacara mengatasi pandemic. Agar meskipun hidup kian payah, kita dapat tetap mencari peluang untuk cuan. Berderet lifehack cara kaya di usia muda. Berbagai tips produktif ditengah hidup yang kian destruktif. Tapi hidup tetaplah hidup, kita punya porsi dan posisi yang tidak dapat ditawar. Kita punya ranah yang tidak akan pernah serupa.

Otakku penuh. Kuletakan gawaiku sebentar. Aku berjalan menghirup udara di depan beranda. Barangkali aku bisa lebih tenang. Barangkali keadaan tidak seburuk yang kusaksikan di layar kaca. Barangkali itu bisa-bisaan media seperti yang dikatakan akun konspirasi di laman social media. Ya, mungkin saja begitu, kataku sambil merapikan hatiku yang porak poranda.

Seseorang datang dan mengetuk pintu rumahku.

“Permisi mbak, barangkali berkenan memberi sumbangan untuk pak joyo. Pagi tadi beliau meninggal dunia, dan saat ini istrinya masih kritis dirumah sakit. Anak beliau satu-satunya masih isolasi mandiri dirumah. Kami segenap warga RT 2 berinisiatif urunan untuk proses pemakaman dan biaya rumah sakit istrinya.”

Belum selesai aku mencerna, toak masjid RW sebelah kembali berbunyi “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un .. telah berpulang ke Rahmatullah ibu… “

Hatiku mencelos, rupanya bukan hanya social media yang ramai. Bahkan lingkungan rumahku sendiri menjadi saksi, betapa pandemic kali ini sama sekali bukan sekedar cerita pilu di layar kaca, yang sebentar mengundang iba, kemudian berlalu. Berita kehilangan bertubi-tubi hari ini adalah kenangan, adalah harapan, adalah tulang punggung, tempat pulang bagi orang-orang yang ia tinggalkan. Dan ini sama sekali tidak sesederhana deretan angka yang semakin hari semakin membengkak jumlahnya.

Lidahku kelu, sebab seberapa banyak pun ku lantunkan petuah tabah warisan nenek moyang, kehilangan tetaplah kehilangan. Ada perasaan yang aneh. Ada luka yang tidak pernah tau cara mengering. Ia akan basah senantiasa, bersamaan dengan ingatan yang berputar-putar di kepala. Dan bayangan akan melanjutkan yang tersisa. Dengan hati yang mengumpulkan niat untuk bangkit di setiap paginya. Hidup kian terasa berengsek dan kita dipaksa menikmatinya.

Meskipun begitu, kuharap kita kuat. Kita dimampukan menghadapi yang ini. Kita tidak kehilangan petunjuk untuk kembali berjalan dan menyulam lagi harapan akan masa depan yang mau tidak mau harus tetap dijalani.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *