sources: pinterest
Cerpen

Waktu dan Anak Panah

Kamu pernah suatu ketika beku, mengutuk keputusan yang kamu buat? Menyesal dan berkali-kali menyumpah serapah diri sendiri. Kamu pernah berada di suatu persimpangan, dan begitu ragunya untuk menentukan tikungan mana yang kamu pilih, tikungan yang kau harapkan mengantarmu sampai di akhir? Atau kamu tau sesuatu yang kamu ingini, tapi terlalu bimbang dan waktu membuatmu berakhir tidak memilih apapun. Sebab berlalu adalah keniscayaan katanya. Waktu hanya berjalan tanpa bertanya, ia terus berjalan tak peduli kita yang tersenyum oleh memori, atau tertusuk panah kita sendiri.

Kemudian disini tempatmu berada, lorong yang tidak ada dimana-mana dengan panah di dada kirimu. Menyesali keputusan yang kemarin, tapi tidak juga mampu menentukan pilihan yang ada dihadapan. Kita semua barangkali, pernah begitu beku meratapi diri yang tidak kuasa menahan luapan emosi pada seseorang yang dikasihi. Di sisakannya kita sebuah retak yang tidak akan sama lagi. Tapi dimalam yang lain, kita sungguh-sungguh merindukannya. Kita bohong bila mengutuk nestapa untuknya. Sebab bibir ini adalah bibir sama yang tidak henti merapal doa untuknya.

Di lorong serupa kita menemui diri yang merasa begitu bodohnya mengambil keputusan di masa lalu. Berandai-andai waktu kembali, berharap kesempatan kedua. Sebab pengetahuan itu juga baru datang sekarang, setelah segala sesuatunya terjadi, setelah hal getir ini ada, setelah apa-apa yang kita ingini tidak mungkin berwujud nyata. Saat itu kita sadar, waktu sudah berjalan dan memunggungi kita dibelakang. Ia memainkan perannya dengan adil. Dan segala bentuk permohonan tidak bisa menghentikan langkahnya. Tiba-tiba gelap itu mencekik, pengandaian demi pengandaian berputar. Satu tubuh terhampar.

Manusia selalu menemukan pembenaran atas segala dosa yang indah, tapi alpa pada tugas sejatinya. Manusia juga yang selalu pandai mencari akal melindungi bagian terpenting dalam hidupnya, ‘Ego’. Barangkali itulah kenapa tuhan menciptakan waktu, yang selalu setia di sisinya. Disadarkan berkali-kali, bahwa kita semua hanya hidup dalam sebuah jam pasir yang bertempo. Ada yang akan usai, dan harus selesai.

Namun hidup ini adalah hidup yang pertama kali bagi semua orang kan? Bukankah memang seharusnya tidak apa-apa jika kita bersalah? Bukankah kita cenderung menemui kebenaran setelah kesalahan itu menampar? Kita barangkali mengutuk kelalaian dan menyebut-nyebut penyesalan sebagai hukuman, panah yang dengan sengaja ia tancapkan.

Namun luka dihari itu tidak lebih dari sekedar alat. Laksana portal, membuka jalan baru yang kasat mata. Membimbing kita membalik lembar cerita. Untuk bertemu kembali pada kemungkinan lain, untuk berkenalan dengan rasa yang lain, atau bahkan membersamai kisah lain diluar skenario sederhana yang lamat-lamat kita susun di kepala.

Tuhan maha memberi kejutan, dan seandainya pun kembali ke masa itu, kita mungkin tetap mengalami hal ini. Kita kembali menyesal, kita kembali memupuk segala pengandaian untuk melukai diri. Artinya, bukan pada keputusan atau rupa khilaf mana yang kita pilih di masa lampau.

Percayalah, keputusan di hari kemarin yang menyesakan adalah keputusan terbaik dari versi dirimu di saat itu. Kamu yang kemarin bertanya-tanya, kamu yang berdebar dan penuh kebimbangan. Kamu dengan segala keterbatasan pengetahuan di hari itu. Kita hanya harus mengakui bentuk kekhilafan ini sebagai perspektif baru. Kita hanya diminta terus memperkaya pemahaman, hingga jam pasir itu usai dan kita berakhir selesai.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *