Puisi

Hari Pemakaman

Tidak ada yang mengerti seberapa tajam duka menusuk isak nafas seseorang.
Tidak ada yang mengerti bagaimana sepi itu bekerja menggigit-gigit ingatan di setiap malamnya.
Semua orang berjalan dan kembali beraktivitas seperti tiada hal yang pantas terlarut.

Tapi untuk kami, ada yang tetap menganga, mendadak lengang, kosong.
Tiba-tiba ada yang menjelma lembar soal yang biasa ku kerjakan disekolah.
Tapi aku gagap, tak kuasa mengisinya dengan apapun. Dan berakhir kosong. Sengaja kubiarkan tanpa jawaban atau alasan.
Kami tidak pernah selesai dengan perasaan ini,
Meskipun orang-orang mengirimi karangan dukacita dan petuah abadi para leluhur tentang ketabahan .
Mereka tidak benar-benar tau arti berat yang bergelayut di belakang punggungku.
Tapi mereka melarangku menangis. Mereka melarangku merangkul sedu sedan yang sejak tadi memperhatikanku di depan gapura pemakaman.


Kakiku tidak boleh lemah, hatiku tidak boleh berdarah, mataku tidak boleh basah,
Hari itu, aku dilarang jadi manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *