Magda Maruszka - Pinterest
Cerpen

Ransel Merah

Aku membawa ransel di punggungku, kadang ia terasa berat tapi karna terbiasa kubawa, kadang juga begitu ringan, seperti tidak membawa apa-apa. Dan hal konyol lainnya kadang aku lupa aku punya ransel yang menempel di belakang punggungku kemanapun aku pergi. Ranselku tidak besar, berwarna merah maroon dengan aksen cinnamon. Tapi cukup untukku menyimpan sebagian cita-cita dan keberanian untuk menjadi bekal di perjalanan. Kenapa sebagian? Tentu saja sebagian lainnya aku tinggalkan dirumah. Agar ketika kesialan hidup sedang jahil dan bahkan mencurinya dariku, aku bisa pulang dan mengumpulkan bekalku lagi untuk kembali memulai perjalanan lainnya.

Awalnya aku seperti tidak tau mau kemana, aku hanya merasa perlu membawanya. Mengingat aku hanya punya 2 pilihan. Bergerak bersama waktu atau hanya di perjalankan oleh waktu. Dan aku memilih yang pertama, aku tidak merasa dilahirkan hanya untuk menjalani hidup dengan kontruksi social yang terbentuk sebelum aku lahir, takdir yang tidak mengenal seandainya, nasib yang tidak bisa kupilih untukku dilahirkan sebagai siapa dan dimana. Kemudian mati tanpa mengerti esensi hidup itu sendiri.

Dan si sulung perempuan itu memulai perjalanannya. Sendiri, seperti seorang pendatang meraba-raba jalan mana yang akan di tuju kali ini. Kendaraan mana yang bisa mengantarnya kesana. Perhitungan antara pengetahuan dan kemungkinan dalam bertahan.

Hingga hari dimana sebuah halte mempertemukan aku dengan mereka yang juga tengah dalam perjalanannya. Entah ini perasaan egois atau apa, tapi ketika hidup sedang memaksa menjerit, melihat kenyataan tidak seorang diri di dalamnya seperti sedikit menenangkan.

Ketika aku melakukan perjalanan ini, aku menemukan fakta menarik yang tidak kutemukan di buku yang kubaca. Rupanya proses menjadi keluarga tidak hanya melalui pernikahan atau proses biologis antar mahluk. Tapi interaksi kecil yang hangat bisa menjadikan orang asing yang tidak saling tau satu sama lain ini bisa sedekat urat nadi. Menjelma saudara, menjelma ibunda, menjadi keluarga.

Dan fakta itu memberiku kekuatan, bahwa seberat apapun harapan orang yang penuh mengisi ransel kita, melihatnya sebagai beban yang mau tidak mau harus dipikul bukanlah solusi.

Tetaplah hidup, jadikan tiap keping harapan adalah asupan untuk menjalani yang ini. Toh kita tidak sendiri kan? di jalan yang ini, kita menemukan manusia lainnya, yang serupa, yang menjelma keluarga.

🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *