credit: pinterest
Cerpen

Di Hadapan Dua Pintu

Serupa ibu, serupa tanah, serupa rumah. Semesta adalah pengajar terbaik yang menemui muridnya di tiap detik renung. Di lorong-lorong tanya yang sendiri dan penuh ragu. Di malam yang bising oleh desakan rintik hujan yang berjubal di kanal matamu.

Aku percaya setiap yang diciptakan di dunia berpasangan. Dan sepasang adalah dua yang tergenapkan. Bukan tiga, bukan yang lain.

Dalam hidup seringkali kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Sebab hidup adalah rentetan pilihan yang tidak pernah usai, hingga waktu mengubur seluruh usia. Deret pintu satu dan pintu lainnya yang terus menerus harus dibuka. Agar terus berlanjut, terus berjalan, dan terus..

Namun dalam ruangan yang kita pijak, pintu itu selalu terdiri dari dua variable dan meskipun dihadapkan yang lebih dari itu, kita hanya bisa memilih satu.

X atau Y ? Kiri atau Kanan ? Timur atau Barat ? dan pertanyaan selanjutnya di mulai dari sini. Ketika kita memilih X sudah pasti kita tidak menemui apa yang ada dalam pintu Y. Ketika kita memilih kanan, kita harus menerima isi dibalik pintu itu bersama segala kemungkinan. Ketika kita memilih timur, kita sudah pasti menjauh dari barat. Di saat itu kita mengetahui, manusia sama sekali tidak boleh serakah.

Memilih adalah bagian dari manusia, sedangkan bimbang adalah kawan yang menyertainya. Disaat tertentu memilih sama sekali tidak mudah. Ketika dihadapkannya kita pada dua beda yang sama-sama kita ingini. Tidak hitam, tidak putih, tapi abu-abu. Keduanya seperti serupa, dan bagaimana membedakan yang ini? Dan bagaimana pula memilih dua hal yang tidak rela untuk kehilangan salah satunya.

Manusia sungguh tidak boleh serakah. Dan disinilah tugas semesta menasehati isi kepala. Tapi hari itu, ia sedang tidak berkotbah, ia hanya bertanya. Ia hanya menggenggam tanganku yang gemetar penuh ragu dan khawatir pada kemungkinan menyesal. Ia hanya menatapku tersenyum, bertanya perlahan seperti seorang sepuh yang bijak. β€œMana diantara keduanya yang membuatmu merasa lebih hidup? Dan apakah definisi hidup itu?”

Sempurna aku tersentak. Ia hanya bertanya, dan aku menangis sejadi-jadinya. Jalan panjang dan pintu-pintu itu aku buka dengan keyakinanku yang murni akan tuhan. Dan mata angin yang aku pilih, adalah cerminan mata hatiku. Dan oleh sebab lelah yang hampir putus asa, oleh sebab angkuhku yang merasa mampu, aku hampir .. aku sungguh sangat hampir memilih pintu yang terlihat begitu berkilau dari luar, hanya karna mengatasnamakan kebutuhan. Tapi aku mengabaikan nurani yang menyertai selama ini.

Untuk sesaat, aku kehilangan diriku.

Serupa ibu, serupa tanah, serupa rumah. Semesta mengajakku kembali pada aku yang sebenarnya. Dan atas bentuk pilihan-pilihan lain di depan sana. Barangkali nanti akan lebih abu-abu, barangkali akan lebih bias. Tapi semesta yang mengingatkanku tentang β€˜siapa aku’ seharusnya mampu membantu mataku lebih jelas memilih jalannya.

Dan semoga, selalu dengan hati aku melangkah. πŸ™‚

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *