Cerpen

Tanya untuk Ibunda

Bunda, dan apakah hidup itu? Dulu ku kira menunggumu pulang dengan jajanan pasar adalah kesenangan yang tak akan pudar. Dulu dengan sisa dagangan yang kau bawa pulang sisa kue dari toko tempatmu numpang berjualan adalah harta karun yang aku pikir, barangkali ini adalah balasan tuhan karna aku membantumu mencuci piring kemarin. Dulu kau senang bercerita perihal makhluk tak kasat mata yang maha memiliki kita, ia yang tidak pernah tidur itu selalu hikmat menyaksikan tiap gerak gerik kita disetiap harinya. Bundaa, bahkan dimasa kanak ku tuhan terdefinisikan begitu besar dan terang.

Bunda, anak kecil yang senang meraba wajahmu saat terlelap itu kini bertumbuh dan tengah menyelipkan harapan besar pada hidup yang biru. Waktu membuat putrimu yang dahulu senang menyanyi di kamar mandi ini membisu. Cahaya pada kesederhanaan memudar. Dimatanya yang kini, definisi bahagia berujung samar. Semakin besar mimpi , apakah berarti semakin besar kemungkinan mati? Terkubur realita yang melahap habis sisa-sisa harapan.

Bunda, esok nanti barangkali inginku masih hanya tercatat pada buku diary yang diam-diam ku sempunyikan diatas lemari. Apakah kau akan bertanya “sudah sejauh mana?”. Apakah cara melukis senyummu aku harus menjadi sesuatu yang besar. Yang piguranya dengan bangga terpampang di beranda?.

Bunda, aku masihlah putrimu. Yang dalam tiap perihnya merintihkan namamu. Masih putri kecil itu yang dalam tiap kesempatan tersemat ketakutan engkau hilang.

Bunda, kini aku bertumbuh dewasa. Semakin besar, hingga semakin banyak tanya menghantamku. Tapi atas apa yang di gariskan tuhan pada jalanku, bolehkah aku bertanya padanya “kenapa aku?” atau “kenapa jalan hidupku begini?”. Apa boleh mempertanyakan tuhan seperti itu? kau bilang tugas manusia hanya menerima dan menjalani. Tapi kenapa orang lain merasa perlu mempertanyakan sesuatu yang menekanku?

Bunda, aku masih bayi kecil yang sama, yang dulu bertanya-tanya tentang warna, tentang nama-nama binatang, Nama-nama buah. Aku bayi yang mengeja panggilan pertamanya untukmu dengan cadel. Dan kini aku mengulanginya, aku banyak bertanya. Bertanya-tanya dalam isi kepalaku yang kerdil ini.

Bunda, jangan terluka. Aku masihlah putrimu yang itu. yang kelahirannya kau ucap dengan penuh syukur. Terimalah aku dalam keberadaanku, sebagaimana dahulu, ya ?

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *