Review

Soe Hok Gie: Catatan seorang demonstran!

Buku yang entah kenapa banyak terdistrak saat membacanya. Bukan apa-apa , kalimat dalam buku ini cukup dapat aku nikmati. Tidak terlalu banyak frasa yang membingungkan. Meskipun beberapa istilah politik perlu bantuan google untuk menterjemahkan. Aku memang bukan tipe orang yang menyukai politik pada dasarnya, tapi membaca buku kiri bukan yang pertama kali.

Sesuai judulnya, buku ini berisi catatan harian panjang sang demonstran, soe hok gie. Tokoh yang tidak asing untuk mahasiswa pecinta alam universitas Indonesia, ia tidak lain adalah pendiri Mapala itu sendiri. Membaca sebuah catatan harian adalah sebuah jalan pintas memahami isi kepala seseorang. Jujur tanpa tipu daya, dari sudut pandang keakuan yang utuh. Kita di ajak berlayar dalam pergolakan jalan pikiran soe hok gie.

Dalam buku ini diceritakan perjalanan soe hok gie sejak smp sampai pada akhir hidupnya, satu minggu sebelum kematiannya di puncak gunung semeru. Menarik menyaksikan sosok idealis menuangkan isi kepala, sebab hal-hal yang tak terlintas bisa terpikirkan begitu dalam olehnya. Dan melalui buku ini kita akan merasa intim. Sebab kita dibawa masuk menjelajahi isi kepalanya dalam banyak hal.

Sebagai seorang reformis, gie adalah sosok yang berani mengungkap serta menyampaikan kegelisahannya pada kesewenang-wenangan. Ia melihat kebenaran sebagai sesuatu yang utuh dan tidak melekat pada sesiapa. Ia masif menulis kritik pada majalah serta koran.

Saya tidak banyak melakukan penelitian histori atas buku ini, meski saya sudah membaca beberapa tinjauan yang mengatakan ada beberapa catatan yang tidak ditampilkan meskipun saat itu adalah masa yang penting dan genting. Dan baru saya ketahui juga bahwa beberapa nama sengaja di samarkan untuk menghindari opini publik.

Meskipun saya hidup jauh dari masa beliau, membaca tiap opini dan pendapat yang lugas ia sampaikan seolah masih relate pada era kini. Era dimana generasi milenial berbondong mempertanyakan politik bangsa yang simpang siur. Social media barangkali memudahkan kita mencari informasi, namun bukan berate memudahkan kita untuk menjadi berani dan lantang bersuara.

Saya berterimakasih banyak pada soe hok gie, yang tidak hanya belajar dari sifatnya yang idealis humanis murni namun pula pada kebiasaannya menuliskan catatan harian. Betapa pentingnya sebuah dokumentasi atas perjalanan hidup seseorang, apalagi catatan yang tertinggal ini adalah milik seorang reformis, aktivis, idealis, humanis yang juga seorang kawan yang hangat, begitu mencintai puncak gunung, hingga pada akhir hayat kepulangannya memilih ketinggian sebagai tempatnya berpulang.

Tunai sudah mimpimu diatas sana, menanggalkan mimpi lama yang di pungut hari demi hari oleh generasi setelahmu.

“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah yang berumur tua. Mahluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *