Cerpen

2020 si Tahun Pembelajaran

Kota seperti berlagak santai. Manusia mulai mengedepankan bosan. Menginjak 9 di 2020. Terasa terlalu cepat untuk sebuah diam yang dipaksa oleh keadaan. Bahwasanya benar, waktu hanya berjalan dan terus berjalan tanpa pernah bertanya. Ia seperti tidak peduli kami yang sedang gempar dengan pandemi. Kami yang dibuat gentar oleh duka dan kepergian berkali-kali ditahun ini. Ia hanya menatap, tatapan kosong. Tanpa iba, tanpa amarah, hanya sorot yang mengajarkan kita berpasrah.

Tahun cantik yang tidak akan alpa dari sejarah. Betapa kita semua begitu muak untuk mengenangkan dan ingin segera pergi menanggalkannya dengan damai. 2021 tinggal menuju hitungan jam, tidak ada euphoria yang berlebihan seperti halnya perayaan tahun baru umumnya.

Mengenangkan 2020 pertama yang disambut deras hujan. Banyak kota banjir, beberapa akses jalan terputus. Hari pertama itu seolah mengisyaratkan berita untuk kita ilhami sepanjang tahun ini. Rutinitas hingar di malam itu mendadak terkendala. Banyak kita masih abai dengan simpang siur berita wabah di negeri sebrang, sampai akhirnya di bekuk kenyataan.

Maret 2020 corona pertama di Indonesia di temukan. Panik, khawatir, ketakutan. Selalu ada yang pertama dalam hidup. Dan untuk yang pertama kali ini, rasanya sangat aneh, sedikit mencekam. Kita dipaksa membiasakan diri dengan aturan baru si tamu yang datang jauh dari wuhan.

Banyak hal berubah, berputar 180 derajat. Kegemaran kita untuk menikmati hiruk pikuk sempurna di kutuk. Jarak menjelma bukti cinta yang lain, kini. Memeluk jadi kegembiraan yang berdosa. Atas kemungkinan menjaga sesama, kita menjauh, mengurung diri dan meminimalisir interaksi.

Dikembalikannya kita pada hakikat kesendirian. Menghabiskan waktu dengan diri sendiri, merenungkan musibah beruntun, berita kepergian, PHK masal, berita kapitalis yang memanfaatkan momentum memperkaya diri. Bertubi-tubi kita dipaksa menerima.

Tapi manisku, saat begitu banyak alasan menggiring kita pada kepahitan mendalam. Jendela di dinding tua itu terbuka. Memantulkan cahaya. Hari belum sepenuhnya usai. Hidup tidak sepenuhnya sepelik itu. Kita dihadapkan pada pandangan lain atas ketidaksukaan pada masa yang ini.

Beberapa kita menemukan potensi yang tidak di duga. Mengisi new normal dengan produktifitas, membiasakan diri berdamai oleh musibah, mencari celah hikmah yang bersembunyi. Sungguhlah tuhan sedang merindukan kita. Yang dalam diam, ringkih, tertatih menyebut-nyebut namanya. Dan rupanya ada yang tidak bisa dibunuh oleh wabah, ialah kebaikan kita pada sesama.

Slogan untuk saling menjaga, saling membantu, saling menguatkan adalah imun terbaik yang kita punya sepanjang tahun ini. Ternyata hati kita belum mati. Ternyata harapan itu masih berdiri.

Dan atas 2021 yang nanti, barangkali masih belum bisa kita pastikan membaik. Tapi untuk kesekian kalinya aku ucapkan, selama hati saling mengasihi, kita pasti bisa lalui lagi yang  ini.

Hey! Terimakasih sudah bertahan sampai disini. Atas segala yang terjadi ditahun ini, dan tahun tahun yang akan datang nanti, semoga bahu itu semakin menguat karnanya.

Happy new year !

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *