Review

Reply 1988 Si Drakor Hangat

Aku selalu payah menghadapi sesuatu yang nostalgic. Tapi sialnya aku juga selalu tertarik pada hal-hal tempo dulu. Menyaksikan perubahan, mengambil benang merah dari pergerakan waktu yang tidak bisa kita tahan. Aku selalu merasa rindu dan entah oleh apa ketika menonton atau membaca romans klasik.

Kali ini drama korea lawas yang baru selesai ku tonton tempo hari. Dan seperti halnya aku yang selalu merasa hidup dan menjadi bagian dari setiap drama yang aku saksikan, di drama ini sempurna aku merasa merindu sejadi-jadinya.

Drama series 20 episod selama 90 menit ini aku saksikan kurang dari 3 hari, dengan beberapa kali mencuri jam kerja dan jam tidurku. Cerita yang ditawarkan sederhana namun kita akan di bawa menuju pemahaman demi pemahaman lainnya di setiap episode.

Bercerita tentang kehidupan keluarga yang hidup di lingkungan gang yang sama. Drama ini menampilkan persahabatan beberapa anak yang sejak kecil bertetangga, dengan karakter mereka masing-masing tiap tokoh berhasil menunjukan kehangatan. Adalah Deok Sun, Choi Taek, Jung Hwan, Sung woo dan Dorongyong pemeran utama dalam cerita ini. Namun, untukku bahkan di tokoh-tokoh kecil atau pendukung memberikan nilai yang mengharukan.

Dalam hidup yang rumit ini ada banyak hal yang bersinggungan dengan sesuatu yang kita suka dan tidak kita sukai. Namun dengan hati yang tulus pada tiap ucap dan perbuatan, kita akan menemui jenis kebaikan lain yang menyapa di persimpangan jalan.

Akan panjang kalau aku paparkan tokohnya satu persatu, sebab aku merasa terlalu banyak nilai yang disampaikan. Bagaimana pandangan seorang perempuan yang meskipun telah dipanggil ibu oleh anak-anaknya, tetap menjadikan ‘ibu’ sebagai mantra ajaib ketika dunia bersikap seolah tak adil.

Tentang bagaimana seorang laki-laki yang bertumbuh, menjadi seorang ayah. Betapa sosok ayah dalam cerita ini mengingatkan kembali kita pada kepura-puraan yang dengan kuat ia sembunyikan. Superman kita satu ini tidak pandai menunjukan perasaannya. Dan kukira begitulah mungkin rupa ayah di luar sana dalam diam menelan segala masalah demi memastikan keluarganya baik-baik saja.

Selain menampilkan sudut pandang ibu dan ayah, bagi calon orangtua yang sedang belajar mebesarkan anak juga dapat mengambil beberapa hal dalam cerita ini. Sebab seringkali orangtua terlalu merasa memiliki anak-anak mereka. Seringkali kita tidak bijak dengan menjadikan anak adalah perpanjangan mimpi kita yang belum usai. Kita lupa, meskipun ia tumbuh dan besar dengan asuhan orangtua. Mereka tetap memiliki mimpi dan bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka sendiri pula.

Dari drama yang hangat ini, semoga kita semakin meyakini bahwa kasih sayang belum hilang di muka bumi, kita hanya perlu menduplikat ini lebih banyak lagi. Dan bahkan di lorong kecil sebuah gang, kasih dan ketulusan selalu mampu membuat hal itu besar sebagai kenangan disuatu hari nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *