Cerpen

Perempuan Bermata Senja

Penghujung tahun 2020, cuaca masih tidak menentu. Siang yang begitu teriknya, bisa tiba-tiba hujan deras. Tanpa isyarat, tanpa permisi. Seperti halnya hari yang kita lalui. Begitu mudahnya terbolak balik oleh keadaan yang kadang tak baik. Di kesempatan hari ini, izinkan aku bercerita. Tentang sahabatku, perempuan bermata senja. Yang teduh dalam segala diamnya, kini. Ya, kini. Sebab oranye yang menyala di matanya tidak terlahir begitu saja.

Kita mengakui bahwa beberapa orang lahir serupa karya seni. Hadirnya memberi kesan indah secara ajaib. Kita bisa berbahagia hanya dengan menatapnya. Dan lepas dari sesuatu yang kita nikmati secara kasat mata. Di dalam sana ada pusara yang menarik kita, terus menggiring, membuat kita bersumpah untuk selalu membersamai manusia ini.

Karya seni terbaik adalah sebuah karya yang terlahir dari proses. Tentu saja ia pernah ada di tempat tersepi dalam hidupnya. Begitu rapat ruangan itu ia kunci, sembunyikan rapuh yang tak satu setan pun tau. Tentu saja ia pernah mengutuk hidup, mencaci dalam teriakan tersunyi. Dan tentu saja, berkali-kali ia ingin lari, melanglangbuana di cakrawala nun disana. Berharap tidak ditemukan, berharap dapat mengulang tombol start. Di tempat berbeda, di perasaan yang tak lagi sama, dan tentu saja dengan luka yang telah binasa.

Tapi hidup tidak pernah menawar. Kita tidak diminta mengubah kartu domino yang tersedia. Kita hanya harus duduk, melanjutkan permainan dengan sisa kartu yang mau tidak mau kita miliki. Perjudian antara doa pagi dan realisasi mimpi masih terus berjalan. Membiarkan waktu merayap hingga saatnya permainan usai.

Perempuanku sedang terduduk, di jendela yang menghadap barat. Mengaduk harinya yang gaduh pada secangkir teh yang ia nikmati. Pada teguk pertama yang mengingatkannya atas duka pagi tadi, membuat matanya nanar. Air suci mengalir diantara kedua belah pipi. Dan meski terasa seperti tertahan di kerongkongan, sore itu ia tetap menelan seteguk nasib yang menjumpainya.

Mempersilahkan airmata tumpah, airmata yang juga sejak pagi menggantung di dada. Di hadapan renjana, diantara angin yang lembut mengusap pundaknya. Senja kali ini tidak pernah sama lagi. Mewakili sebagian jiwanya yang berpamitan.

Hari itu berlalu ..
Masa yang tidak pernah ia duga dapat dilewati, rupanya terjalani jua. Membeli bahu dengan isak dan jeritan. Kini kakinya tidak pernah ragu menghadapi kepahitan yang berjaga di ujung jalan. Ratapan serta belas kasihan pada diri, telah lama ia usir.

Kini, tegukan teh sore yang ia miliki hanya berisi tentang rasa syukur. Atas kehilangan besar itu ia sadar, bahwa sesungguhnya kehilangan sama dengan ‘pernah memiliki’. Dan sepanjang kita masih memiliki hati yang besar untuk menerima dan terus belajar, hidup akan baik-baik saja. 🙂

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *