Cerpen

Ia Yang Berpulang

Ku biarkan cahaya matahari memilikimu..

Di hari yang 17 agustus. Pingir jalan terjajar warna warni bendera, merah dan putih. Televisi sedang serentak menampilkan upacara di istana. Pagi masih pukul 10.

Di sudut lain, petak rumah sakit tempatmu terbaring. Kau bergegas meninggalkan kefanaan. Membiarkan cahaya itu membawa letih yang belakangan menggantung di kedua belah pundakmu. Kau biarkan ia melepaskan kesakitan dan sisa nafas. Nafas yang juga pernah kita bagi bersama, di puncak ketinggian. Di antara senja dan semangka. Di antara dingin dan hangat yang berbicara.

Barangkali kau sangat menyukai negri ini, memilih hari kelahirannya sebagai hari kepulanganmu. Lagu kebangsaan tipis teriring. Hari masih jam 10 pagi, tapi kurasai cuaca panas sekali. Ia bahkan memanas di kedua bola mataku, mencairkan sesuatu yang ku tahan erat. 17 agustusku yang nanti tidak lagi sekedar merayakan kemerdekaan, tapi mengenangkan sosok yang membawa kakiku menginjak puncak gunung pertamanya.

Tulisan ini aku dedikasikan untukmu. Pribadi yang 10 tahun lalu ku kenal. Sudi berkawan hingga kini, selalu setia berada di sekitar. Sampai pada hari dimana kau memilih kepergiannya sendiri. Kepergian yang benar-benar pergi. Kepergian sekaligus kepulangan abadi pada ke ribaan tuhan.

Terimakasih atas segala kelapangan hati yang tidak pernah usai. 20-10-2010 20:10 , 10 tahun sudah dan di 2020 ini kak, kau memilih utuh. Menjadi keniscayaan, melayang ke langit yang jauh. Dan diatas sana kau benamkan sauh.

Akan kukenangkan engkau sebagai orang yang begitu pandai meredam marah. Yang tidak pernah lupa cara tertawa dan meringankan canda sebagai kenangan yang tidak habis-habisnya kami simpan dalam ingatan. Dan diantara lelah pendakian itu, seringkali tetap terjaga, memastikan kami baik-baik saja. Hati yang meskipun tidak pernah di pandang dunia memilih tersenyum dengan sederhana. Walau belakangan ini kak, aku melihat jerit menggerogoti tubuhmu. Sosok yang selalu tangguh itu merintihkan sakit yang menjalari tubuhnya. Entah sakit seperti apa yang sedang mencengkram leher kemejamu, sosok yang selalu nampak kuat itu di lumpuhkannya jua. Orang sekuat kau kak ..

Pada hari dimana rentetan kalimat yang tidak kau jumpai lagi ini, aku sampaikan maafku. Aku sampaikan dukaku dan segala terimakasih yang tidak pernah cukup membayar penerimaan berkepanjangan. Betapa sakit rupa kepergian yang kau pilih. Bagaimana kiranya 17 agustus ku yang nanti? Bagaimana kiranya puncak gunung yang masih ingin ku daki. Puncak-puncak yang kau tuliskan namaku diatas sana.

Esok hari nanti, barangkali kau sedang terduduk menikmati kopi hitam dan cakrawala yang menguning di ketinggian. Barangkali kita bertemu kembali, aku hanya ingin menyampaikan maaf dan terimakasih yang tidak pernah sempat aku sampaikan, bahkan di hari terakhirmu.

Surga adalah rumah abadi segala kebaikan berpulang. Selamat jalan kak Alan Gumilar, Aku lepas kepergianmu. Sebagaimana kau, yang dengan tabah melepas rasa sakit itu. Meninggalkan kami untuk membersamai cakrawala diatas sana. Berbahagialah dengan tenang.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *