Cerpen

Bumi Yang Tersungkur

Barangkali hidup adalah naskah panjang, tempat kata-kata dan tanda baca bercengkarama. Kita hanya perlu mengikuti penulis yang maha agung itu dengan perintah baca serta jeda di tiap kalimat. Beberapa waktu yang lalu langkahku terseok, bumiku jatuh sakit. Diagnosa yang awam terdengar oleh kami yang hanya menggantungkan pulih pada sebutir logam ini tersentak.

Sesaat yang buruk itu membalikan duniaku, lollipop dan warna-warni dunia yang biasa kupandang mendadak abu-abu. Aku memang selalu naif, dan kukira bukan hal asing bagi orang-orang sekitar menilai ini. Tapi dihari itu begitu banyak tanda tanya di kepalaku. Kenapa? Kenapa harus aku? Apa hal salah yang aku lakukan? Dan rentetan penolakan lain yang terputar. Teori kebaikan yang aku genggam seolah meredup, bersiap menerima makianku.

Aku masih mengingat hari itu, harinya terkulai lemas di ranjang kamar kelas 3 rumah sakit. Petugas medis menyampaikan berita yang seketika meremas airmataku. Jantungku seperti berlari, persis seperti jiwaku yang mendengar kesaksian ini. Aku lemah perihal menahan tetesan air suci, sungguh! Untuk yang kali ini aku menyerah.

Pagi itu aku melihat matahari merangkak, tapi ia masih sempat menatapku, tangannya menyentuh-nyentuh pipiku yang memanas. Langkahku terkulai, keluar dari ruang sesak itu. Barangkali bukan bentuk ruang yang menjadikannya sesak, melainkan begitu banyak berita nestapa yang menggema disana. Tembok itu hanya diam, ia seperti mati rasa sebab begitu banyak berita didengarnya sepanjang hari. Tidak ada duka atau sukacita atas apapun. Ia mengenal betul petuah kefanaan hidup. “Jangankan sakitmu sayang, sehatmu juga fana. Akan berlalu jua!” ucapnya dengan tenang.

Aku terduduk di tangga ujung lorong yang menghadap timur, gelap. Aku tidak melihat lagi matahari. Kabut pagi itu bukan yang biasa aku nikmati di puncak gunung. Kabut itu tumbuh di kedua mataku. Sisanya hanya isak, lelehan rasa yang tidak dapat aku suarakan pada sesiapa. Apakah kali ini aku sendiri? Apakah kali ini aku kan menjadi mereka yang senang mengutuk hidup? Mengapa nyeri sekali rasanya. Bolehkah aku terbangun sekarang? Bukankah ini hanya mimpi buruk yang sesekali mengganggu tidur ketika aku tidak doa malam.

Aku tersedan dan terus begitu. Limpung menghadapi kenyataan yang mengetuk duniaku yang tenang. Aku berjalan, menyeret sisa suara yang dokter ucapkan tadi pagi perihal bumiku, ibuku.

Ini adalah hari ke 30 paska hari buruk itu, dan ternyata aku masih bisa bernafas mmengisyaratkan kebaikan tuhan yang tidak pernah membiarkan aku benar-benar sendiri menghadapi ini. Lagi-lagi aku menemui bentuk penguatan di bahu manusia lain, di tiap tatap dan pukpuk yang ku terima. Di tiap cahaya dan langit yang seolah menatapku dengan keteduhannya, menyampaikan petuah dengan tabah. Seperti ibuku, yang kemarin lalu terkulai lemas itu.

Pada hari buruk, dalam bentuk apapun yang kita miliki. Di ujung lorong yang gelap itu selalu ada pintu lain tempat kita membuka makna. Kini beberapa hal menunjukan pembelajaran untukku. Dan tanpa pernah bosan, ku katakana sekali lagi :

“ Masa sulit membentukmu, dan ayo kita hadapi lagi yang ini ! ” 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *