Cerpen

Mengantar Sapardi

Hari minggu di pertengahan juli yang ragu-ragu. Pagiku masih tidak berbeda dari kebanyakan minggu lain. Ari reda terputar, menyanyikan sajak puisi dari nama legendaris yang terpampang rapi pada sampul buku-buku di lemariku. Aku nikmati tiap nada, meletakan sosok ia yang hidup dalam syair yang ku dengarkan. Sisa kerinduan sabtu malam belum usai rupanya. Sesap pertama teh hijauku begitu hangat. Merembes ingatanku yang dikoyak oleh tarian puisi di telinga. Ahh, dalam puisi bahkan luka bisa terasa semanis ini.

Menjelang siang setelahnya, lamunanku dibangunkan kedukaan. Kedukaan nyata yang entah bagaimana mengacak-acak dadaku. Pak sapardi, nama yang sedari tadi ku maksud berpulang. Si legenda hujan yang membuatku jatuh cinta pada dunia puisi menghembuskan nafas terakhirnya. Bahkan sampai dewasa ini aku masih belum sempat menyapanya dalam dimensi temu.

Aku masih ingat jatuh cinta pertamaku yang di tuntun oleh sajak cinta penuh ketabahan, seperti hujan bulan juni. Sajak itu mewakili cinta pertamaku pada seorang sahabat. Beberapa juni berlalu tapi rasa yang kumiliki masih ku genggam tanpa membiarkan pohon berbunga itu tau. Hatiku adalah daun yang tergugur atas sajak-sajak yang kau tuliskan. Meski beberapa tokoh berganti, di kepalaku karyamu abadi. Menjelma taman, menjelma latar tempat aku dan siapapun seseorang disampingku bermain peran.

Pada bait-bait lirik yang ku eja, kau mengantarkan aku menemukan rumah dalam dunia sastra. Meski pintu pertama yang kau tunjukan masih terbentang panjang. Kakiku riang menapaki jalan ini. Kau benar pak, aku memang tidak seharusnya bertengkar pada bayangan perihal siapa yang harus berjalan di depan. Aku hanya berjalan, terus berjalan dan merasa menemukan.

Dihari yang itu aku masih mengingat, tulisan di buku diary pertamaku. Aku menyebut namamu pak. Iya, penggalan puisi yang diam-diam ku tulis dalam buku kecil berwarna hijau itu. Sajakmu aku patrikan disana. Menjadi sebuah mantra, jimat yang kuharap mengusap pundakku kala kedukaan kembali datang. Aku kira kali ini aku sedang tidak memesan puisimu yang sendu. Tapi pagi ini, kami di hidangkan berita duka yang tanpa lirik lanjutan sekalipun, begitu banyak kepiluan mengudara.

Hari minggu yang ini pak, usai sudah tugasmu menulis puisi, hari ini biarkan puisi-puisi bekerja menuliskan namamu. Pagi ini pak, tidak perlu lagi kau memungut detik, sebab detik demi detik sedang berkumpul menceritakan sajakmu. “Jadi menurutmu, apa kata yang tak sempat disampaikan kayu pada api yang menjadikannya abu?”

Hormatku untukmu eyang, bapak, prof, sekali lagi, terimakasih telah hidup dan berpuisi. Yang fana adalah waktu; karyamu abadi.

Selamat jalan Sapardi Djoko Darmono, puisi kami ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *