Cerpen

Memaknai sebuah Jalan

Jalan adalah tempat termudah menyaksikan miniatur kehidupan. Tertata jajaran manusia dengan properti lakon yang dikenakan. Bercakap, berteriak, menjadi saksi atas satu sama lain.

Pertokoan ibukota, pohon tua, gedung-gedung, deretan lampu merah yang rapi dan presisi, menjadi landscape pelengkap dalam cerita-cerita sebagian peran. Besar di pinggiran kota Jakarta membuat kita terbiasa hidup dengan segala kemacetan dan hiruk pikuk. Di setiap harinya nasib berjudi dengan doa pagi. Keringat dikumpulkan untuk membeli mimpi.

Selayaknya lampu lalu lintas yang punya aturannya sendiri, kehidupan pun begitu. Beberapa jalan yang kita lalui memiliki lampu merah yang lebih lama dibanding lampu hijau. Di beberapa tempat yang lain lampu merah atau lampu hijau tiada beda, stuck! macet! Diam di tempat tanpa ada pergerakan berarti. Raga kita tua dimakan waktu, dimakan harapan-harapan hidup nyaman.

Lepas dari lampu lalu lintas yang punya kuasanya sendiri, atribut-atrribut yang mengisi jalan juga menarik untuk disaksikan. Kita melalui jalan yang sama dengan rupa kendaraan yang berbeda. Gerobak tua, sepeda motor, mobil atau kendaraan beroda lainnya. Dan begitulah sejatinya hidup, tuhan tidak pernah meminta kita untuk membawa berapa banyak yang kita hasilkan. Ia tidak meminta kita tersibuk dengan atribut yang harus dikenakan. Sebab yang harus dipahamkan hanyalah bahwa kita hanya harus melalui jalan itu.

Manusia dilahirkan dengan berkah waktu yang dimilikinya, tiap kita memiliki ‘jatah waktu’-nya sendiri. Dengan tanpa terikat oleh waktu yang dimiliki oranglain,. Tapi menariknya dengan waktu yang kita punya kita bisa saling mengisi dan berbagi arti.

Katanya ada dua hari yang paling  berarti dalam hidup, pertama adalah saat kita lahir dan kedua saat kita tau alasan kenapa kita dilahirkan. Sayangnya, kebanyakan orang hanya bisa menjawab pertanyaan pertama. Barangkali aku, atau kita juga saat ini justru baru memulai pertanyaan itu ? meraba dan menerka jawaban dalam kamus terjajar dalam isi kepala.

Ia seperti ilmu dasar yang kehilangan dasarnnya. Jadi dimana sebenarnya kaki ini menapak ? sejak kanak-kanak kita hanya di cekoki bagaimana proses menjadi hidup, tanpa pernah benar-benar memahami alasan kenapa kita harus terlahir dan hidup. Kita tidak pernah benar-benar merasa berarti, begitu mudahnya terpekur dalam realita yang seringkali membuat kita merasa hancur.

Tapi, tuhan tidak pernah menyuruh kita melawan kenyataan. Ia hanya meminta kita menjalani dan mengerti untuk apa sebenarnya semua ini? Siapa kita dan kenapa kita ada?

Kalau di hari ini kamu sudah menemukan jawabannya kamu boleh tulis dibawah ini, agar lebih banyak lagi pertanyaan kawan-kawan lainnya terbungkam.

Terimakasih sudah berkunjung, nanti jumpa lagi yaa ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *