Cerpen

Berkaca pada Bunga

Apa yang lebih indah dari merasa diterima dan dimaui oleh jagat raya ?

Segala kekhawatirran seolah dapat dengan mudah terabaikan ketika banyak orang disekitar, meyakinkan diri seindah itu dan tidak sepantasnya meratap atas segala liku. Apa yang lebih menenangkan ketika berjalan dan menemui begitu banyak kasih sayang? Kalau kau bertanya padaku saat ini, Aku sungguh tidak dapat  menemukan kalimat lain untuk menjawabnya.

Di duniaku nampaknya hidup hanya berwarna-warni, wangi dan terpusat padaku. Katanya, tidak ada yang menolak menatapku meski sesaat. Seringkali mereka menjadikanku figur dari wujud terindah ciptaan tuhan. Aku merasa bersyukur berkali-kali.

Dalam perjalananku menuju senja, aku menemui kawan-kawan yang menceritakan banyak hal, beberapa mereka membandingkan derita untuk memaklumi keadaan diri, yang katanya tak seberuntung aku. Betapa redup dan lara berkali-kali menjatuhkannya. Ia mati-matian berusaha dan tetap ‘bunga’ sosok yang dipuja. “Persetan dengan duniawi !” katanya.

Di kepalanya hidup terlalu gelap untuk di ajak menari, menjadi wajar bila amarah mudah membuncah. Sebab semesta mendidiknya begitu, ia bilang pada keadaan yang seperti ini aku tidak akan mengerti. Mataku bisu mendengar kesaksiannya, tapi pada kalimatnya yang lain ia seperti mendorongku terjatuh ke lubang renung.

Bagaimana mungkin aku baru menyadari bahwa indahku selama ini terjadi begitu saja tanpa perjuangan yang berarti. Aku selalu merasa memang begini tuhan menciptakanku, dilahirkannya aku menjadi bunga-bunga sebagai lambang kebahagiaan oleh semesta. Aku tidak perlu berjibaku untuk hidup, sebab kehidupan selalu menantiku dimanapun.

Meski pada akhirnya realita menunjukkan ku sesuatu. Barangkali selama ini hanya isi kepalaku sendiri yang mengamini opini ini. Aku yang terus mengaitkan keindahan dan keberuntungan melekat di setiap langkah kakiku. Aku harus mengakui bahwa tidak segala sesuatu berjalan seperti bagaimana aku memandangnya. Menarik sekali memperhatikan gerak langkahku hanya berdasarkan rasa percaya diri yang berlebihan.

Tapi aku menemukan sesuatu yang kurasa justru akan semakin kuat ku genggam untukku berjalan disepanjang harinya. Sepertinya ia lupa, kukira tuhan tidak pernah pilih kasih menciptakan kita. Ku katakan satu rahasia padamu, sebenarnya bukan aku yang indah tapi sudut pandang mereka.

Dan mungkin aku tidak hidup dalam keberuntungan beruntun selama ini, aku hanya berusaha selalu merasa beruntung. Aku hanya ingin melihat keberuntungan dihadapanku. Menyoal aku yang terlahir dengan takdir menawan tanpa perjuangan, itu tidak lebih dari aku yang menikmati prosesku bermekar. Aku tidak menganggap perjalanan bertumbuh mekar adalah beban. Ia hanya melahirkan kebersyukuran padaku disetiap harinya. Dan membuatku lupa aku pernah ada di posisi bertahan melawan badai yang diam-diam bisa menggugurkan mahkota yang kupunya.

Jadi bagaimana kau letakan sudut pandang atas dirimu kini? Barangkali mereka yang kita lihat begitu bersenang-senang akan hidupnya bukan begitu saja terjadi. Sebab keberuntungan itu rupanya adalah bagaimana cara kita meletakan sudut pandang pada posisi manapun diri ini berada. 

Selamat malam hari yang baik! Esok jumpa lagi yaa ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *