Cerpen

Daisy dan Rumput Liar

Mana yang lebih indah? Bunga daisy atau rumput liar?

Bila ini adalah pertanyaan pembuka tanpa deskripsi lanjutan, tentu tanpa aba-aba kita akan memilih yang pertama. Kita bahkan rela berjalan mendaki di cuaca yang telah lama kita prediksi, hanya demi menyaksikan bunga daisy yang memanis di lereng gunung prau. Bentuknya yang mungil, serta parasnya yang merona membuat kita tidak bisa mengabaikan begitu saja. Belum lagi bukit yang hijau tidak pernah menolak memeluknya. Membuat mereka seolah tampil bagai sepasang yang diidamankan. Mereka adalah karya seni tuhan yang senyata-nyatanya.

Kalau kebetulan ini adalah kali pertama kamu mendengar nama bunga daisy, atau bahkan kamu belum pernah menyaksikannya secara langsung. Kamu boleh memasukan kata kunci “daisy di tanah jawa” pada mesin pencarian, beberapa potret yang muncul mungkin akan mendukung argumentasiku di atas. Dan setidaknya untukku, ia memang seindah itu.

Aku bertanya-tanya bagaimana konsep keindahan bisa begitu impulsif terdefinisikan sejak kanak-kanak. Bagaimana sesuatu dikatakan ‘cantik’? Bagaimana sesuatu dikatakan ‘jelek’? Apakah bahkan dibangku sekolah kita didikte perihal keduanya? Atau kurikulum mengajarkan kita melihat sesuatu dengan standar serupa dan telah lama dianut jutaan peradaban manusia sepanjang zaman? Untuk yang satu ini aku masih belum menemukan jawabannya. Kamu boleh memberitahuku bila menemukan sesuatu. Entah bagaimana mulanya, sebuah kecantikan selalu digambarkan semesta melalui bunga. Kita bisa berkeliling ke seluruh dunia dan menemukan waktu kita habis hanya untuk membacai karya sastra tentang keindahan sebuah bunga, atau bahkan lagu-lagu, foto, lukisan-lukisan yang tidak pernah bosan menjabarkan legenda dan keindahannya.

Yang satu ini agak menarik.

Rumput liar. Bolehkah ia kita sejajarkan dengan sang legendaris ?

Bentuk tak beraturan dengan warna sesuai cuaca, terkadang ia hijau segar, seringkali ia kuning, kecoklatan dan kering. Tapi yang menarik adalah satu hal, ia tetap hidup. Tidak peduli terik yang melahap atau hujan yang mengguyur habis tubuhnya. Ia, tetap hidup. Mengupayakan penghidupan atas dirinya. Tanpa satu setanpun peduli, tanpa seorangpun menyaksikan. Meski tumbuhnya dianggap ancaman bagi sesama dan semakin ia terlihat besar itu artinya umurnya tidak akan lama, sebab pemotong rumput akan siap menumpas sebagian tubuhnya yang menjulang. Menyedihkan bukan? Mengupayakan tumbuh sekuat tenaga, ketika dirasai subur tubuhnya tangan lain justru siap membuatnya kembali kerdil.

Mungkin hati kecilnya bertanya “Untuk apakah aku ada tuhan? bukankah aku juga bagian dari semesta? tapi kenapa penolakan seolah mutlak menjadi takdirku?” dan tebak apa jawaban tuhan untuk menenangkan hatinya ?

Ia, rumput liar yang kita bicarakan tadi, adalah simbol dari tangguh yang teguh. Upayanya untuk kembali dan terus hidup adalah keteguhan yang sejati, penerimaannya yang lapang akan kemungkinan dihancurkan berkali-kali adalah pembelajaran tentang tangguh yang tidak bisa di ajarkan tanaman manapun pada kita. Dan dialah si rumput liar itu. Keberaniannya untuk hidup adalah warna keindahan yang berbeda. Dan tentu saja tidak pernah mudah berada disana. Pada luka demi luka yang ia telan, hanya menjadikannya semakin melebur, meluas bersama alam. Dia tidak pernah dipeluk, tapi dialah yang memeluk semesta, ia yang memeluk bukit-bukit kosong itu. Ia tidak pernah membiarkan mereka kesepian, meski dalam cuaca terburuk sekalipun. Ia tetap hidup, hadir dan mengupayakan kesepian tidak pernah menyelimuti kawan-kawannya.

Dongeng singkat ini adalah refleksi pribadiku, yang merasa kecil oleh pandangan dunia. Aku bukan bunga, bukan pohon lebat yang menghasilkan buah untuk sesama. Aku hanya rumput liar yang diam-diam menyelinap dalam ruang kosong kalian, berusaha hidup dan berharap kita hidup tanpa kesepian. Akulah pribadi yang seringkali diasingkan dunia, lebih paham cara menjadi diam daripada memecah tawa menyenangkan. Rumput liar yang berusaha tenang dalam kebisuannya, tidak pernah membiarkan sebuah taman kesepian. Meski ketika musim bunga telah hadir, ia kembali pada sudut yang terlupakan.

Tidak apa-apa, memang begitulah cara bermain peran di jagat raya ini. Namun semoga cerita ini menemani kalian dan menjadi pengayaan sudut pandang

Bahwa berbeda bukan berati kita buruk. Kecil bukan berati kita lemah. Dari si rumput liar kita belajar, ada kekuatan murni, ada keindahan sejati dari ketangguhan yang kita jalani hari ini. Teruslah berupaya dalam kebaikan, sebab tuhan menciptakanmu atas suatu alasan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *