Cerpen

Dan apakah Mimpi ?

Berbicara perihal mimpi, masing-masing kita tentu memiliki rupanya tersendiri. Kalau boleh aku bertanya, kapankah kali pertama kau temukan bentuk mimpi ? satu tahun yang lalu ? lima tahun yang lalu? Atau bahkan kau sudah menyadarinya ketika diam-diam ‘mimpi’ mengetuk jendela alam bawah sadarmu?

Saat malam tiba, saat dongeng-dongeng paling mendunia menceritakan betapa kebaikan dapat membeli mimpimu. Dan hal paling omong kosong sekalipun mungkin saja mampir. Membuatmu beku terbius akan sebuah pesona dan bersiap melangkah menggandeng tangannya.
Tapi, usia dewasa sering mencekik mimpi masa kecil kita bukan ? realita seringkali membelah imaji dan nyata menjadi luka yang diam-diam kita kubur, tanpa pernah seorangpun mendengar. Ia terkubur bahkan sebelum dunia menyaksikan kearah mana kan kita bawa.
Aku masih ingat mimpi pertamaku, cita-cita dengan kekuatan dendam seorang anak kampung yang dipaksa menyaksikan pongahnya dunia pada kami yang nyaman dalam ‘apa adanya’. Seolah mimpi hanya untuk mereka yang memiliki anak tangga untuk berjalan menapakinya. Milikku, memang sudah lama ku kubur diam-diam. Diantara riuhnya klakson ibukota yang nyaring bersahutan, aku yang kecil dan sedang terduduk disamping barang dagangan ibuku menantikan es lilin ditangan habis ku lumat dengan nikmat. Mimpi bagiku saat itu adalah dimensi lain yang bisa buatku tersenyum senang meski tidak melakukan apa-apa.

Sampai disini apa kalian sudah mengingat bentuk mimpi yang dahulu itu?
Tidak, jangan sampaikan padaku. Kamu boleh menjawabnya sendiri, dan merahasiakannya bahkan dari angin sekalipun. Aku hanya ingin mengetuk kembali ruang itu, masih adakah ia? Dan bilakah ia terbunuh sejak dalam pikiran, ku harap kamu tetap dalam keadaan damai.
Entah masih pantas atau tidak membicarakan mimpi di usiaku yang sudah mencapai seperempat abad, usia dimana beberapa kawan bahkan sudah menari bersama mimpi mereka. Tapi, peduli apa dengan nasib orang lain? Kita memegang kendali utuh untuk berhenti menyakiti diri dengan perbandingan bukan?
Perihal mimpi rupanya tidak pernah selesai hanya dengan mengingatnya kukira, sesuatu yang sudah kita ciptakan berhak lahir. Kita semua tau, tidak ada kelahiran yang mudah. Ada lelah yang harus kita bawa, belum lagi kesakitan-kesakitan yang hanya di rasakan untuk dapat mencapai proses kelahiran. Setelah membayangkan ini, kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap ingin menyaksikan bayimu terlahir ? atau melupakan kelahiran apalagi seorang anak? Hehe belum apa-apa kita sudah di tantang. Di berondong tanda tanya untuk tetap melakukan atau memenangkan keengganan.

Rupanya kita tau, tidak hanya perkara ingin. Tapi bermimpi adalah keberanian, menjadikan yang tiada menjadi ada. Menyaksikan ketiadaan membentuk dirinya. Tiap kita berhak akannya, tiap kita boleh memilikinya. Dengan segala sukar yang bahkan baru dalam pikiran, seringkali di aborsi secara paksa oleh si empunya. Bahkan saat masih menanti proses lahirnya ia seringkali harus melawan stigma dan struktur sosial yang melemahkan janin itu. Kita boleh saja tidak memiliki mimpi , tapi jangan bunuh janin yang sedang di kandung orang lain. Sebab tidak semua orang berjiwa kuat. Mereka hanya butuh ruang untuk hadir. Dan tidakkah lebih mudah untuk membiarkan?

Baiklah, aku paham mungkin disitulah ujiannya. Tapi apakah harus kita yang menjadi tokoh dari jahatnya kata-kata? Apakah harus kita yang menjadi aktor pembunuh tanpa ampun atas mimpi-mimpi orang lain? Aku hanya sedang berkaca pada diri, adakah kalimat yang dengan ringannya melayang membekukan mimpi seseorang dan membuatnya merasa kecil. Seandainya itu benar terjadi.. apa yang bisa kulakukan untuk menghidupkannya kembali? Mungkinkah ia akan hidup kembali? Mimpi itu mungkin adalah bayi yang di nantinya , semangat yang membuatnya tetap hidup tanpa penyesalan. Dan sebab kebodohan sebuah cemooh, ia harus terbujur dalam pusaran kubur.

Melalui cerita ini, aku ingin menyampaikan hanya karna kita tidak memiliki, bukan berati kita harus membuat orang lain kehilangan apa yang ia punya. Pada akhirnya tiap mimpi hanya membutuhkan penerimaan, dan terlahir dengan nyaman. Merangkak dan berjalan, meski hanya akan berakhir di sebuah bingkai atau terkenal di seluruh media sosial. Semoga kita bisa menghargai mimpi orang lain dan tidak menjadi tokoh antagonis di cerita yang bahkan bukan milik kita.
Selamat malam dari tempatku berada, semoga mulai malam ini kalian menemukan kembali ‘bayi’ yang begitu lama kalian rindukan dengan wujud senyata-nyatanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *