• Source : Pinterest/ayeshajunaid
    Cerpen

    Hari ke-100

    Tiba rupanya kaki ini pada nafas pertama di hari ke-100. Segalanya sudah menjadi lebih baik-baik saja. Atau barangkali kami yang hanya pura-pura terbiasa. Muka rumah kian kosong, beberapa isi lemari mulai kami benahi. Kami benar-benar bersiap melepas kepergian. Oh, barangkali sudah bukan waktunya untuk bersiap tapi sungguh harus merelakan. Aku bertanya pada seorang kawan, apakah bentuk kerelaan itu nyata pada bumi yang kita rasai milik kita ini? Tapi ia hanya diam menatapku. Ia merangkul pundakku “kau harus sampai di titik ini dulu, baru aku bisa menjawab tanyamu.” Katanya kemudian. Ia kembali pada tempatnya yang nun di depan sana. Hari ini, rasanya aku baru terbangun. Tapi kemudian tiba-tiba hari mulai senja…

  • Esai

    Ied Adha Tahun Kedua

    Tidak ada perayaan tahun ini. Tidak ada gegap gempita bersama arang dan kipas bambu. Rutinitas hari raya ala keluarga di idul adha. Pandemic memang tengah merajai desa-desa dan ibukota. Dan kali ini qurban terbesar bukan lagi hewan peliharaan. Melainkan seseorang yang kita cintai. Tuhan memaksa kita menjelma Ibrahim yang dengan tabah merelakan kecintaannya pada ismail. “setiap kita adalah Ibrahim dan apa-apa yang kita cintai adalah ismail.” Tuhan tidak meminta Ibrahim membunuh ismail. Ia hanya meminta Ibrahim membunuh rasa kepemilikannya. Menyadarkan diri kembali bahwa kita datang tanpa membawa apapun dan akan kembali pula dengan keadaan serupa. Tapi tentu saja kita ini manusia, yang meskipun paham bahwa ditinggal ataupun meninggalkan adalah keniscayaan.…

  • sources: pinterest
    Cerpen

    Waktu dan Anak Panah

    Kamu pernah suatu ketika beku, mengutuk keputusan yang kamu buat? Menyesal dan berkali-kali menyumpah serapah diri sendiri. Kamu pernah berada di suatu persimpangan, dan begitu ragunya untuk menentukan tikungan mana yang kamu pilih, tikungan yang kau harapkan mengantarmu sampai di akhir? Atau kamu tau sesuatu yang kamu ingini, tapi terlalu bimbang dan waktu membuatmu berakhir tidak memilih apapun. Sebab berlalu adalah keniscayaan katanya. Waktu hanya berjalan tanpa bertanya, ia terus berjalan tak peduli kita yang tersenyum oleh memori, atau tertusuk panah kita sendiri. Kemudian disini tempatmu berada, lorong yang tidak ada dimana-mana dengan panah di dada kirimu. Menyesali keputusan yang kemarin, tapi tidak juga mampu menentukan pilihan yang ada dihadapan.…

  • Puisi

    Hari Pemakaman

    Tidak ada yang mengerti seberapa tajam duka menusuk isak nafas seseorang.Tidak ada yang mengerti bagaimana sepi itu bekerja menggigit-gigit ingatan di setiap malamnya.Semua orang berjalan dan kembali beraktivitas seperti tiada hal yang pantas terlarut. Tapi untuk kami, ada yang tetap menganga, mendadak lengang, kosong.Tiba-tiba ada yang menjelma lembar soal yang biasa ku kerjakan disekolah.Tapi aku gagap, tak kuasa mengisinya dengan apapun. Dan berakhir kosong. Sengaja kubiarkan tanpa jawaban atau alasan.Kami tidak pernah selesai dengan perasaan ini,Meskipun orang-orang mengirimi karangan dukacita dan petuah abadi para leluhur tentang ketabahan .Mereka tidak benar-benar tau arti berat yang bergelayut di belakang punggungku.Tapi mereka melarangku menangis. Mereka melarangku merangkul sedu sedan yang sejak tadi memperhatikanku…

  • Puisi

    Cahaya Yang Bercahaya?

    Tidak ada nirvana malam ini, Tidak ada grunge. Aku menuangkan diri pada selembar kertas yang sunyi. Menuliskan angin, menuliskan tanah, menuliskan udara. Dimana kiranya kutemukan rumah, yang kedap tanda tanya? Aku ingin bersembunyi, dari basa basi yang membidik nafasku. Menghambur diri pada oase, meneguk lelah. dari anak perempuan yang mencoba merangkul tabah. Bagaimana caranya menjadi cahaya yang bercahaya? Sedang seumpama aku yang merangkak mengendus upaya, Tiba-tiba dilahapnya dibelakang mataku, Oleh waktu yang tidak mau tau, Yang tidak mendengar kata sebentar. Tiba-tiba usang, tiba-tiba gelap. Tiba-tiba aku sendiri dan bukan sesiapa. Lalu ketika aku mendongak, tanda tanya yang darinya aku lari, justru semakin kekar berdiri.

  • Society6 - Pinterest
    Cerpen

    Tubuh Yang Kau Pinjam

    Hari ini menarik ya? Banyak emosi melintasi diri.  Mengucurkan tangis jadi seperti satu-satunya peringan beban. Manusiawi untuk merasa tidak baik-baik saja—katanya. Manusia biasa sayang, walau dipercayakan mengemban banyak luka orang sekitar, kuat yang mutlak memang tidak pernah ada. Selalu terdapat airmata yang diam-diam menyelinap, bersembunyi di pelupuk mata, di waktu-waktu sepi, di waktu yang juga membuatmu utuh merasa sendiri. Barangkali, diatas motor tua. Di antara kemacetan, diantara riuh klakson dan umpatan khas jalanan. Udara di kedua telingamu tetap menyampaikan kekosongan. Dibalik helm anti silau, kau siram pipi dengan kerapuhan. Kau teriakan lagu paling sengit, yang menggigit inti jantungmu. Tidak ada yang benar-benar tangguh ternyata. Kokoh langkah yang dilihat orang, tidak…

  • Magda Maruszka - Pinterest
    Cerpen

    Ransel Merah

    Aku membawa ransel di punggungku, kadang ia terasa berat tapi karna terbiasa kubawa, kadang juga begitu ringan, seperti tidak membawa apa-apa. Dan hal konyol lainnya kadang aku lupa aku punya ransel yang menempel di belakang punggungku kemanapun aku pergi. Ranselku tidak besar, berwarna merah maroon dengan aksen cinnamon. Tapi cukup untukku menyimpan sebagian cita-cita dan keberanian untuk menjadi bekal di perjalanan. Kenapa sebagian? Tentu saja sebagian lainnya aku tinggalkan dirumah. Agar ketika kesialan hidup sedang jahil dan bahkan mencurinya dariku, aku bisa pulang dan mengumpulkan bekalku lagi untuk kembali memulai perjalanan lainnya. Awalnya aku seperti tidak tau mau kemana, aku hanya merasa perlu membawanya. Mengingat aku hanya punya 2 pilihan.…

  • credit: pinterest
    Cerpen

    Di Hadapan Dua Pintu

    Serupa ibu, serupa tanah, serupa rumah. Semesta adalah pengajar terbaik yang menemui muridnya di tiap detik renung. Di lorong-lorong tanya yang sendiri dan penuh ragu. Di malam yang bising oleh desakan rintik hujan yang berjubal di kanal matamu. Aku percaya setiap yang diciptakan di dunia berpasangan. Dan sepasang adalah dua yang tergenapkan. Bukan tiga, bukan yang lain. Dalam hidup seringkali kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Sebab hidup adalah rentetan pilihan yang tidak pernah usai, hingga waktu mengubur seluruh usia. Deret pintu satu dan pintu lainnya yang terus menerus harus dibuka. Agar terus berlanjut, terus berjalan, dan terus.. Namun dalam ruangan yang kita pijak, pintu itu selalu terdiri dari dua variable…

  • Puisi

    Tahun baru

    Januari menata hatinya yang porak poranda. Peluk dan hangat di tunda, hingga pandemi reda.Dan kita yang dicekik harap hanya tertawa.Menipu luka yang semakin menggila.Tapi kelamnya masa ini, masa depan kita masih suci. Selamat tahun baru, bersoraklah bersama terompet dan letusan 2020-ku (yang berlalu).

  • Cerpen

    2020 si Tahun Pembelajaran

    Kota seperti berlagak santai. Manusia mulai mengedepankan bosan. Menginjak 9 di 2020. Terasa terlalu cepat untuk sebuah diam yang dipaksa oleh keadaan. Bahwasanya benar, waktu hanya berjalan dan terus berjalan tanpa pernah bertanya. Ia seperti tidak peduli kami yang sedang gempar dengan pandemi. Kami yang dibuat gentar oleh duka dan kepergian berkali-kali ditahun ini. Ia hanya menatap, tatapan kosong. Tanpa iba, tanpa amarah, hanya sorot yang mengajarkan kita berpasrah. Tahun cantik yang tidak akan alpa dari sejarah. Betapa kita semua begitu muak untuk mengenangkan dan ingin segera pergi menanggalkannya dengan damai. 2021 tinggal menuju hitungan jam, tidak ada euphoria yang berlebihan seperti halnya perayaan tahun baru umumnya. Mengenangkan 2020 pertama…