• Puisi

    Cahaya Yang Bercahaya?

    Tidak ada nirvana malam ini, Tidak ada grunge. Aku menuangkan diri pada selembar kertas yang sunyi. Menuliskan angin, menuliskan tanah, menuliskan udara. Dimana kiranya kutemukan rumah, yang kedap tanda tanya? Aku ingin bersembunyi, dari basa basi yang membidik nafasku. Menghambur diri pada oase, meneguk lelah. dari anak perempuan yang mencoba merangkul tabah. Bagaimana caranya menjadi cahaya yang bercahaya? Sedang seumpama aku yang merangkak mengendus upaya, Tiba-tiba dilahapnya dibelakang mataku, Oleh waktu yang tidak mau tau, Yang tidak mendengar kata sebentar. Tiba-tiba usang, tiba-tiba gelap. Tiba-tiba aku sendiri dan bukan sesiapa. Lalu ketika aku mendongak, tanda tanya yang darinya aku lari, justru semakin kekar berdiri.

  • Society6 - Pinterest
    Cerpen

    Tubuh Yang Kau Pinjam

    Hari ini menarik ya? Banyak emosi melintasi diri.  Mengucurkan tangis jadi seperti satu-satunya peringan beban. Manusiawi untuk merasa tidak baik-baik saja—katanya. Manusia biasa sayang, walau dipercayakan mengemban banyak luka orang sekitar, kuat yang mutlak memang tidak pernah ada. Selalu terdapat airmata yang diam-diam menyelinap, bersembunyi di pelupuk mata, di waktu-waktu sepi, di waktu yang juga membuatmu utuh merasa sendiri. Barangkali, diatas motor tua. Di antara kemacetan, diantara riuh klakson dan umpatan khas jalanan. Udara di kedua telingamu tetap menyampaikan kekosongan. Dibalik helm anti silau, kau siram pipi dengan kerapuhan. Kau teriakan lagu paling sengit, yang menggigit inti jantungmu. Tidak ada yang benar-benar tangguh ternyata. Kokoh langkah yang dilihat orang, tidak…

  • Magda Maruszka - Pinterest
    Cerpen

    Ransel Merah

    Aku membawa ransel di punggungku, kadang ia terasa berat tapi karna terbiasa kubawa, kadang juga begitu ringan, seperti tidak membawa apa-apa. Dan hal konyol lainnya kadang aku lupa aku punya ransel yang menempel di belakang punggungku kemanapun aku pergi. Ranselku tidak besar, berwarna merah maroon dengan aksen cinnamon. Tapi cukup untukku menyimpan sebagian cita-cita dan keberanian untuk menjadi bekal di perjalanan. Kenapa sebagian? Tentu saja sebagian lainnya aku tinggalkan dirumah. Agar ketika kesialan hidup sedang jahil dan bahkan mencurinya dariku, aku bisa pulang dan mengumpulkan bekalku lagi untuk kembali memulai perjalanan lainnya. Awalnya aku seperti tidak tau mau kemana, aku hanya merasa perlu membawanya. Mengingat aku hanya punya 2 pilihan.…

  • credit: pinterest
    Cerpen

    Di Hadapan Dua Pintu

    Serupa ibu, serupa tanah, serupa rumah. Semesta adalah pengajar terbaik yang menemui muridnya di tiap detik renung. Di lorong-lorong tanya yang sendiri dan penuh ragu. Di malam yang bising oleh desakan rintik hujan yang berjubal di kanal matamu. Aku percaya setiap yang diciptakan di dunia berpasangan. Dan sepasang adalah dua yang tergenapkan. Bukan tiga, bukan yang lain. Dalam hidup seringkali kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Sebab hidup adalah rentetan pilihan yang tidak pernah usai, hingga waktu mengubur seluruh usia. Deret pintu satu dan pintu lainnya yang terus menerus harus dibuka. Agar terus berlanjut, terus berjalan, dan terus.. Namun dalam ruangan yang kita pijak, pintu itu selalu terdiri dari dua variable…

  • Puisi

    Tahun baru

    Januari menata hatinya yang porak poranda. Peluk dan hangat di tunda, hingga pandemi reda.Dan kita yang dicekik harap hanya tertawa.Menipu luka yang semakin menggila.Tapi kelamnya masa ini, masa depan kita masih suci. Selamat tahun baru, bersoraklah bersama terompet dan letusan 2020-ku (yang berlalu).

  • Cerpen

    2020 si Tahun Pembelajaran

    Kota seperti berlagak santai. Manusia mulai mengedepankan bosan. Menginjak 9 di 2020. Terasa terlalu cepat untuk sebuah diam yang dipaksa oleh keadaan. Bahwasanya benar, waktu hanya berjalan dan terus berjalan tanpa pernah bertanya. Ia seperti tidak peduli kami yang sedang gempar dengan pandemi. Kami yang dibuat gentar oleh duka dan kepergian berkali-kali ditahun ini. Ia hanya menatap, tatapan kosong. Tanpa iba, tanpa amarah, hanya sorot yang mengajarkan kita berpasrah. Tahun cantik yang tidak akan alpa dari sejarah. Betapa kita semua begitu muak untuk mengenangkan dan ingin segera pergi menanggalkannya dengan damai. 2021 tinggal menuju hitungan jam, tidak ada euphoria yang berlebihan seperti halnya perayaan tahun baru umumnya. Mengenangkan 2020 pertama…

  • Cerpen

    Tanya untuk Ibunda

    Bunda, dan apakah hidup itu? Dulu ku kira menunggumu pulang dengan jajanan pasar adalah kesenangan yang tak akan pudar. Dulu dengan sisa dagangan yang kau bawa pulang sisa kue dari toko tempatmu numpang berjualan adalah harta karun yang aku pikir, barangkali ini adalah balasan tuhan karna aku membantumu mencuci piring kemarin. Dulu kau senang bercerita perihal makhluk tak kasat mata yang maha memiliki kita, ia yang tidak pernah tidur itu selalu hikmat menyaksikan tiap gerak gerik kita disetiap harinya. Bundaa, bahkan dimasa kanak ku tuhan terdefinisikan begitu besar dan terang. Bunda, anak kecil yang senang meraba wajahmu saat terlelap itu kini bertumbuh dan tengah menyelipkan harapan besar pada hidup yang…

  • Review

    Soe Hok Gie: Catatan seorang demonstran!

    Buku yang entah kenapa banyak terdistrak saat membacanya. Bukan apa-apa , kalimat dalam buku ini cukup dapat aku nikmati. Tidak terlalu banyak frasa yang membingungkan. Meskipun beberapa istilah politik perlu bantuan google untuk menterjemahkan. Aku memang bukan tipe orang yang menyukai politik pada dasarnya, tapi membaca buku kiri bukan yang pertama kali. Sesuai judulnya, buku ini berisi catatan harian panjang sang demonstran, soe hok gie. Tokoh yang tidak asing untuk mahasiswa pecinta alam universitas Indonesia, ia tidak lain adalah pendiri Mapala itu sendiri. Membaca sebuah catatan harian adalah sebuah jalan pintas memahami isi kepala seseorang. Jujur tanpa tipu daya, dari sudut pandang keakuan yang utuh. Kita di ajak berlayar dalam…